Pada suatu malam saat hujan deras, aku duduk sendirian di
ruang tamu rumahku. Suara hujan yang menari di atap rumah menciptakan melodi
yang menenangkan. Sinar lampu jalan yang redup menyinari pekarangan rumahku,
menciptakan atmosfer misterius di sekelilingku.
Ketika aku melihat ke arah pintu depan,
aku melihat sesuatu yang membuat bulu kudukku merinding. Di depan pintu, ada
bayangan yang samar-samar terlihat. Seolah-olah seseorang berdiri di sana, tapi
tidak jelas siapa atau apa itu. Keberanianku diuji oleh rasa takut, namun
ketidakpastian membuatku ingin tahu.
Aku bangkit dari sofa dan berjalan
perlahan menuju pintu. Hujan semakin deras, dan bayangan itu semakin
terdefinisi. Saat aku mendekat, aku melihat seorang sosok wanita dengan gaun
putih, rambutnya basah terkena hujan. Tatapan matanya penuh kelembutan, seakan-akan
menyiratkan cerita yang terpendam.
Dengan ragu, aku membuka pintu, dan dia
masuk tanpa sepatah kata pun. Kami hanya saling menatap, komunikasi tanpa kata.
Dia tampak tenang, dan kehadirannya memberikan ketenangan di tengah hujan yang
deras di malam itu.
Dia berdiri di depan jendela, dan aku
menyadari betapa sendirinya dia di malam ini. Dalam sekejap, rasa takutku
hilang, digantikan oleh rasa ingin tahu dan kehangatan. Hujan di luar semakin
reda, seakan-akan mendukung kehadiran sosok misterius ini.
Malam itu, kami berdua hanya duduk di
ruang tamu, mendengarkan suara hujan yang pelan. Tanpa kata, kami saling
memahami. Kadang-kadang, kehadiran seseorang dapat mengubah suasana hati,
bahkan dalam ketidakpastian. Bayangan hujan malam itu membawa kehadiran yang
tak terduga, membiarkan kisah yang terpendam terungkap dalam diam.
Cerpen ini mengisahkan tentang pertemuan
tak terduga di malam hujan, di mana ketakutan berubah menjadi kehangatan
melalui kehadiran yang misterius.

