Pak Madha, seorang guru yang penuh dedikasi, tiap pagi memulai harinya dengan ritual sederhana: menikmati sepiring ketan hitam. Di sebuah desa kecil, di mana warna langit mulai merona, Pak Madha merasa ketan hitam memberikan semangat khusus yang membuat hari-harinya lebih berwarna.
Di antara buku-buku dan pena-pena di ruang guru, Pak Madha menyelipkan kebiasaannya ini sebagai keceriaan tersendiri. Setiap suapannya, seolah membangunkan semangatnya untuk mencurahkan ilmu kepada para muridnya. Hari demi hari, ketan hitam menjadi teman setia dalam perjalanan mengajar Pak Madha.
Namun, suatu pagi yang berbeda, ketan hitam yang biasanya disiapkan oleh istrinya, Bu Madha, tidak tersedia. Sebuah kejutan yang membuat Pak Madha berpikir, "Mungkinkah hari ini akan berbeda tanpa ketan hitam?"
Pertemuan tak terduga dengan salah satu muridnya, Ani, membuka pintu keberanian dan petualangan baru. Ani, yang juga memiliki kegemaran memasak, menawarkan bantuan untuk membuat ketan hitam bersama-sama. Keduanya pun sibuk di dapur, menciptakan kenangan yang tak terlupakan.
Dari situlah, muncul kesadaran bahwa kebahagiaan tak selalu tergantung pada rutinitas, tetapi lebih pada bagaimana kita merayakannya bersama orang-orang yang kita cintai. Setiap suapan ketan hitam menjadi simbol kebersamaan, kejutan, dan keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman.
Pak Madha belajar bahwa ketan hitam bukan hanya sekadar makanan pagi, melainkan ikatan yang menghubungkan hati dan jiwa. Cerita ini menjadi kisah inspiratif di antara corak kehidupan di desa kecil, di mana sederhana dapat menjadi luar biasa, asalkan kita bersedia berbagi dan menerima.

