Suasana malam itu begitu pekat, hanya
diterangi oleh cahaya remang-remang bulan yang bermain di antara pepohonan. Di
sebuah desa kecil yang dikenal dengan kisah-kisah mistisnya, terjadi peristiwa
yang tak terduga. Dua makhluk gaib, tuyul dan kuntilanak, bersiap-siap untuk
memulai pertarungan sengit mereka.
Di sudut desa yang sepi, tuyul bernama
Tiko dengan rambut kusut dan matanya yang kecil, bersiap dengan keberaniannya
yang melebihi ukurannya. Sementara itu, kuntilanak berwujud wanita jelita
dengan gaun putihnya yang seram, dikenal sebagai Putri Kuntilanak.
Mereka berdua memiliki tujuan
masing-masing. Tiko ingin membuktikan bahwa tuyul bukanlah makhluk lemah yang
selalu dianggap buruk oleh manusia. Sedangkan Putri Kuntilanak ingin
menunjukkan bahwa tidak semua kuntilanak harus ditakuti karena kecantikan mereka.
Pertarungan dimulai dengan suara gemuruh
dan cahaya yang menyilaukan. Tiko melompat dari bayangan ke bayangan, mencoba
mengelabui Putri Kuntilanak. Namun, keahlian Putri Kuntilanak dalam menghilang
membuatnya sulit untuk disentuh.
Namun, di tengah pertarungan yang sengit,
Tiko mulai menyadari bahwa Putri Kuntilanak sebenarnya tidak berniat jahat.
Mereka berdua mulai berbicara dan saling berbagi cerita tentang pengalaman
hidup mereka di dunia gaib.
Dari obrolan itu, Tiko dan Putri
Kuntilanak menyadari bahwa stereotip tentang tuyul dan kuntilanak tidak selalu
benar. Mereka berdua sepakat untuk mengakhiri pertarungan mereka dan bersatu
untuk melawan prasangka manusia terhadap makhluk gaib.
Malam itu, desa kecil itu menyaksikan
pertaruhan yang unik antara tuyul dan kuntilanak, bukan hanya sebagai
pertarungan fisik, tetapi juga sebagai pertarungan untuk mengubah pandangan
manusia. Dan dari pertarungan itu, muncullah persahabatan yang tak terduga di
antara dua makhluk gaib yang selama ini dianggap seram.

