Di sebuah desa kecil yang tersembunyi di
tengah hutan, hiduplah seorang lelaki tua bernama Ki Joko. Ia dikenal sebagai
pemilik toko barang antik yang sangat unik. Desa itu sering dihiasi dengan
kabar misterius mengenai tindakan-tindakan aneh yang dilakukan Ki Joko di
belakang pintu toko tua miliknya.
Suatu hari, seorang pemuda bernama Adi
datang ke desa tersebut. Ia mendengar cerita tentang keajaiban yang terjadi di
toko Ki Joko, terutama mengenai kemampuan tuyul yang dapat membantu pemiliknya
mencapai keberuntungan besar. Adi, yang tengah mengalami kesulitan hidup,
merasa tertarik untuk mencoba keberuntungan dengan cara yang tidak biasa.
Tanpa ragu, Adi mendatangi toko Ki Joko
dan meminta bantuan untuk membeli tuyul. Ki Joko tersenyum misterius dan
menjelaskan bahwa ada sebuah ritual khusus yang harus dilakukan sebelum tuyul
bersedia bekerja sama. Adi kemudian diajak menuju tempat terpencil di dalam
hutan, tempat di mana ritual tersebut akan dilakukan.
Sesampainya di tempat tersebut, Ki Joko
memandu Adi untuk melakukan serangkaian langkah yang aneh dan tak terduga.
Mulai dari menyanyikan mantra kuno hingga memberikan persembahan kepada makhluk
gaib yang konon menghuni hutan tersebut. Adi merasa ragu, tetapi tekadnya untuk
mengubah nasibnya membuatnya melanjutkan ritual tersebut.
Ketika ritual selesai dilakukan, terdengar
suara misterius dari dalam hutan, dan tuyul yang kecil dan lucu muncul di
hadapan Adi. Ki Joko tersenyum puas, memberikan beberapa petunjuk untuk merawat
tuyul, dan memberi peringatan bahwa kekuatan tuyul tidak boleh disalahgunakan.
Adi pulang ke desanya dengan hati penuh
harapan. Tuyul yang diberi nama Kuncoro menjadi sahabat setianya dan membantu
Adi mengatasi berbagai masalah hidup. Namun, Adi mulai merasakan bahwa setiap
keberuntungan yang ia dapatkan melalui tuyul tersebut selalu diiringi dengan
konsekuensi yang tidak terduga.
Cerita ini mengajarkan bahwa keberuntungan
bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan mudah. Setiap tindakan, termasuk
mencari bantuan dari makhluk gaib, memiliki konsekuensi yang harus dihadapi.
Selalu ada harga yang harus dibayar untuk setiap pertukaran takdir.

