Iklan

Latest Post


Setelah Gerimis Reda

Bhumi Literasi
Rabu, 15 November 2023, November 15, 2023 WIB Last Updated 2023-11-15T01:42:00Z

Suasana senja menyambut kehadiran mentari yang perlahan memunculkan warna-warni pelangi di langit. Kota kecil itu, setelah disiram hujan deras, tampak segar dan bersih. Jalan-jalan yang sebelumnya dipenuhi genangan air kini mulai surut, meninggalkan jejak-jejak kaki yang melintas.

Di sudut kota, terdapat sebuah taman kecil yang menjadi saksi bisu dari riuhnya keseharian. Namun, setelah hujan reda, taman itu berubah menjadi tempat yang damai dan memesona. Tetesan air hujan yang masih menggantung di ujung daun, seperti permata alami yang menyinari keindahan setiap detil dedaunan.

Di pinggir taman, terdapat sebuah bangku kayu tua yang tak terawat dengan baik. Bangku itu seakan menjadi saksi bisu dari banyak kisah, mulai dari tawa riang hingga tangisan kesepian. Namun, saat ini, bangku itu menjadi tempat yang nyaman untuk menikmati suasana setelah hujan deras.

Seorang wanita muda duduk di bangku itu, meresapi keindahan sekelilingnya. Rambutnya yang basah mengalir ke bahu, dan senyum tipis menghiasi wajahnya. Di tangannya, ia memegang secangkir kopi hangat yang mengepulkan uap kecil. Setiap tegukan kopi itu seolah menjadi semacam ritual untuk meresapi momen indah pasca-hujan.

Tak jauh dari situ, seorang pemuda dengan payung yang sudah dilipat berjalan pelan. Setiap langkahnya terasa ringan di atas tanah basah. Ia tersenyum melihat wanita yang sedang menikmati kopi di bangku kayu. Tanpa ragu, pemuda itu memutuskan untuk bergabung.

"Suasana setelah hujan memang luar biasa, bukan?" ucap pemuda itu sambil tersenyum. Wanita itu mengangguk setuju, "Ya, benar sekali. Rasanya seperti segalanya menjadi lebih segar dan tenang."

Mereka berdua pun duduk bersama di bangku kayu tua, saling menikmati keheningan yang nyaman. Hujan yang telah mereda membawa keindahan dan ketenangan, seolah-olah menyapu bersih segala kelelahan dan kegelisahan.

Dalam keheningan itu, terdengar suara gemericik air dari sebuah pancuran mini di taman itu. Air yang mengalir seperti melodi yang menenangkan jiwa. Wanita itu melihat ke arah pancuran, dan pemuda itu mengikuti pandangannya.

"Bagaimana kalau kita melupakan sejenak semua beban dan hanya menikmati momen ini?" saran pemuda itu. Wanita itu tersenyum setuju, dan bersama-sama, mereka meresapi keindahan setelah hujan deras yang mereda. Sebuah cerita singkat yang mengajarkan bahwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan, ada momen-momen indah yang bisa dinikmati bersama, asalkan kita bersedia melihatnya.

Komentar

Tampilkan