Iklan

Latest Post


Cahaya Ramadhan di Malam Lailatul Qadar

Bhumi Literasi
Rabu, 12 Maret 2025, Maret 12, 2025 WIB Last Updated 2025-03-12T02:34:23Z

Tak terasa pada hari ini, Rabu, 12 Maret 2025, sudah 12 hari Mas Bhumi dan Pak Tigi menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Rutinitas mereka dalam menulis novel semakin intens. Setiap sore sebelum berbuka, mereka duduk bersama di beranda rumah Pak Tigi, merangkai kata demi kata yang menggambarkan perjalanan spiritual tokoh utama dalam kisah mereka. Novel itu kini sudah mendekati bab pertengahan, dan semangat mereka tak pernah surut.

Malam itu, setelah menunaikan shalat tarawih, Mas Bhumi kembali ke rumah Pak Tigi. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa kesejukan khas Ramadhan. Di atas meja kecil di beranda, secangkir cokelat hangat dan sepiring singkong rebus sudah menunggu. Pak Tigi tampak merenung, menatap langit malam yang bertabur bintang.

"Mas Bhumi, apakah kamu tahu tentang malam Lailatul Qadar?" tanya Pak Tigi perlahan. Mas Bhumi mengangguk. "Iya, Pak. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Saya selalu berharap bisa merasakan kehadiran malam itu, tapi jujur, saya masih belum benar-benar memahami bagaimana menemukannya."

Pak Tigi tersenyum. "Lailatul Qadar bukan hanya tentang ibadah yang lebih banyak, tapi juga tentang ketenangan hati dan keikhlasan jiwa. Dalam perjalanan hidup, ada saat-saat di mana kita merasakan kedamaian yang tak bisa dijelaskan. Mungkin itulah secercah Lailatul Qadar yang hadir dalam hidup kita."

Mereka terdiam sejenak. Mas Bhumi merenungkan kata-kata Pak Tigi. Ia merasa bahwa novel yang mereka tulis juga harus mengandung pesan tentang pencarian makna hidup, seperti halnya seseorang yang mencari malam penuh keberkahan ini.

"Pak Tigi, bagaimana kalau kita memasukkan unsur pencarian Lailatul Qadar dalam novel kita? Bisa jadi, tokoh utama kita menemukan makna hidupnya justru di malam itu," usul Mas Bhumi dengan semangat.

Mata Pak Tigi berbinar. "Ide yang bagus, Mas Bhumi. Kita bisa menggambarkan bagaimana Ramadhan mengubah seseorang dari dalam, bukan hanya secara lahiriah, tapi juga batiniah. Mari kita lanjutkan tulisan kita dengan semangat baru."

Malam itu, di bawah langit yang penuh bintang, mereka kembali menulis. Kata demi kata mengalir, seolah dituntun oleh keberkahan bulan suci. Cahaya Ramadhan menyinari hati mereka, membawa ketenangan yang tak tergantikan. Dalam hati kecilnya, Mas Bhumi berdoa semoga perjalanan mereka menemukan makna Ramadhan ini tak hanya berhenti di atas kertas, tetapi juga menjadi bagian dari hidup mereka yang sesungguhnya.

Di kejauhan, suara takbir keliling mulai terdengar. Mas Bhumi menutup laptopnya, menatap Pak Tigi dengan senyum penuh syukur. "Pak Tigi, saya merasa Ramadhan kali ini benar-benar berbeda. Terima kasih telah berbagi ilmu dan pengalaman dengan saya."

Pak Tigi menepuk bahu Mas Bhumi dengan lembut. "Kita semua belajar, Mas Bhumi. Dan semoga perjalanan ini membawa kita pada cahaya yang sesungguhnya."

Komentar

Tampilkan