Tak terasa pada hari ini, Rabu, 12 Maret 2025, sudah
12 hari Mas Bhumi dan Pak Tigi menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Rutinitas
mereka dalam menulis novel semakin intens. Setiap sore sebelum berbuka, mereka
duduk bersama di beranda rumah Pak Tigi, merangkai kata demi kata yang
menggambarkan perjalanan spiritual tokoh utama dalam kisah mereka. Novel itu
kini sudah mendekati bab pertengahan, dan semangat mereka tak pernah surut.
Malam itu, setelah menunaikan shalat tarawih, Mas
Bhumi kembali ke rumah Pak Tigi. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa
kesejukan khas Ramadhan. Di atas meja kecil di beranda, secangkir cokelat
hangat dan sepiring singkong rebus sudah menunggu. Pak Tigi tampak merenung,
menatap langit malam yang bertabur bintang.
"Mas Bhumi, apakah kamu tahu tentang malam
Lailatul Qadar?" tanya Pak Tigi
perlahan. Mas Bhumi mengangguk. "Iya, Pak. Malam yang lebih baik dari
seribu bulan. Saya selalu berharap bisa merasakan kehadiran malam itu, tapi
jujur, saya masih belum benar-benar memahami bagaimana menemukannya."
Pak Tigi tersenyum. "Lailatul Qadar bukan
hanya tentang ibadah yang lebih banyak, tapi juga tentang ketenangan hati dan
keikhlasan jiwa. Dalam perjalanan hidup, ada saat-saat di mana kita merasakan
kedamaian yang tak bisa dijelaskan. Mungkin itulah secercah Lailatul Qadar yang
hadir dalam hidup kita."
Mereka terdiam sejenak. Mas Bhumi merenungkan
kata-kata Pak Tigi. Ia merasa bahwa novel yang mereka tulis juga harus
mengandung pesan tentang pencarian makna hidup, seperti halnya seseorang yang
mencari malam penuh keberkahan ini.
"Pak Tigi, bagaimana kalau kita memasukkan unsur
pencarian Lailatul Qadar dalam novel kita? Bisa jadi, tokoh utama kita
menemukan makna hidupnya justru di malam itu," usul Mas Bhumi dengan semangat.
Mata Pak Tigi berbinar. "Ide yang bagus, Mas
Bhumi. Kita bisa menggambarkan bagaimana Ramadhan mengubah seseorang dari
dalam, bukan hanya secara lahiriah, tapi juga batiniah. Mari kita lanjutkan
tulisan kita dengan semangat baru."
Malam itu, di bawah langit yang penuh bintang, mereka
kembali menulis. Kata demi kata mengalir, seolah dituntun oleh keberkahan bulan
suci. Cahaya Ramadhan menyinari hati mereka, membawa ketenangan yang tak
tergantikan. Dalam hati kecilnya, Mas Bhumi berdoa semoga perjalanan mereka
menemukan makna Ramadhan ini tak hanya berhenti di atas kertas, tetapi juga
menjadi bagian dari hidup mereka yang sesungguhnya.
Di kejauhan, suara takbir keliling mulai terdengar.
Mas Bhumi menutup laptopnya, menatap Pak Tigi dengan senyum penuh syukur. "Pak
Tigi, saya merasa Ramadhan kali ini benar-benar berbeda. Terima kasih telah
berbagi ilmu dan pengalaman dengan saya."
Pak Tigi menepuk bahu Mas Bhumi dengan lembut. "Kita semua belajar, Mas Bhumi. Dan semoga perjalanan ini membawa kita pada cahaya yang sesungguhnya."


