Iklan

Latest Post


MENJADI SEORANG INFJ

Bhumi Literasi
Jumat, 20 November 2020, November 20, 2020 WIB Last Updated 2020-11-20T02:20:11Z

A : nggak nyangka si kalo ternyata mbak orangnya introvert, soalnya sepenglihatanku selama ini mbak shinta bisa nge-blend sama orang-orang banyak baik banget. Menurutku sebagai orang yang introvert juga, itu susah banget dilakuin, i salute you, miss.

B : that means you are an ambivert.

C : tapi nggak ada bukti ilmiahnya apalagi paper atau jurnal yang bahas tentang teori “ambivert”, setau gue sih.

D : shinta pendiem??? Nggak salah?? HEUHEUHEU :D

E : Hey manusia goa..

Itu tadi di atas beberapa anggapan-anggapan orang yang udah pernah bertemu dan berkomunikasi langsung sama aku. Dari sederet an itu, ada salah satu komen yang menarik.

Yes, I am an introvert. Buat orang-orang di luar sana yang tahu kalo aku adalah seorang introvert mungkin mereka bingung melihat bagaimana aku sendiri membawa diri di ranah sosial, entah itu sosial media maupun social event yang notabenenya bertatap langsung ketemu sama orang banyak. Yang dimana aku terlihat nggak punya kesulitan sama sekali untuk bersosialisasi dengan orang-orang.  Betewe, I can tell you that I am not an ambivert. Yaa, aku masih seorang introvert kaya aku yang dulu. Aku masih lebih nyaman berhari-hari nggak keluar rumah meskipun cuma di teras depan rumah, aku masih suka males ngangkat telpon, aku masih suka nunda-nunda bales chat orang, masih suka curigaan, masih suka over-analyzed ngadepin suatu hal/masalah, dan aku masih tergolong dalam geng INFJ Female. Apa sih INFJ itu? Bagi yang belum pernah denger apa itu INFJ, INFJ itu merupakan salah satu dari 16 Myers-Brigg traits yang ada di setiap manusia. Fyi, populasi cewek INFJ adalah yang paling rare alias langka, hanya ada 2% di dunia ini. INFJ itu sendiri juga salah satu trait yang paling langka karena awalnya aja populasi seorang INFJ itu hanya 1% - 2% dari keseluruhan populasi di dunia. Jimmy Carter (read:mantan presiden Amerika Serikat ke-39) was an INFJ. Begitu juga dengan Nelson Mandela, Bunda Teresa, serta Martin Luther King seorang aktivis Hak Asasi Manusia.

Menjadi seorang wanita dengan trait INFJ yang sangat tidak suka basa basi dalam berkomunikasi alias suka to the point, membuat orang nggak semua bisa memahaminya dengan baik. To the point disini bukan berarti ceplas ceplos tanpa mikir perasaan orang lain loh ya. Aku masih suka menutup diri untuk berteman dengan orang yang aku pikir aku nggak bisa tumbuh dari itu. Lingkaran pertemanan terbaik yang pernah aku temui  ada dua sih kalo pas kecil ya cuma temen-temen deket di Jakarta tapi udah beranjak dewasa gini ya temen-temen deketku sejak  sekamar ma’had waktu kuliah. Terbaik dalam hal bebas drama, bebas tipikal pertemanan wanita yang sukanya ngomongin salah satu dari temen se geng nya di belakang, yang haha hihi dan nongkrong cantik dan bebas hal-hal yang berbau pretentious. Di situ jujur aku merasa nggak perlu pake mask dan bener-bener menjadi the realest version of myself. I’m not afraid to sound mean, cold, not interested, or even not care. Karena mereka tau aku emang nggak pinter mengekspresikan perasaan, aku juga nggak gampang bubbly peluk-pelukan apalagi miss you miss you an sama temen aku, dan aku juga nggak suka yang selalu melakukan percakapan yang nggak bisa bikin aku jadi pinter a.k.a cuma ngerumpiin or gosipin orang. Jujur, aku nggak gampang nyaman sama orang, cuma orang-orang terdekat aja yang bisa ngelihat aku yang cerewet, hyperactive, dan banyak tingkah bahkan bisa nunjukin sisi ekstrovert yang nggak diperlihatkan sama siapapun. Of Course, ketika aku udah nemuin the right people. Aku juga sering nunduk kalo ketemu sama orang di jalan jadi nggak heran aja kalo ada yang bilang aku terlihat sombong, ya Tuhan asli gue emang cool orangnya (hahahahaha langsung gumoh). Terkadang malu buat nyapa duluan, paling nggak bisa tau-tau say “haayy”, “helloo”, atau apalah, kaya ngerasa awkward aja, apalagi kalo pas kita coba sapa duluan eh yang disapa malah kagak ngeh -_-.

Suatu ketika sampailah di momen yang mana aku bisa merantau kemana-mana meskipun belum sampai pindah negara. Yang dimana lingkungan baru, orang-orang baru, cara bersosialisasi yang baru. I did find some inspiring people, whom I like to have conversation with. Soalnya kenapa? Karena setiap ngobrol sama mereka itu, aku banyak belajar hal baru, obrolannya juga positif dan berfaedah, dan tentunya bantu aku buat tumbuh. Tapi nggak sedikit juga lingkaran pertemanan yang aku temuin, yang terlalu mengada-ngada pembahasannya. Obrolannya cuma ketawa-ketawa, nggak ada maknanya, kosong, plus ngebosenin. Di situlah aku mulai merasa muak dengan manusia dan memutuskan kembali masuk ke kandang. Sesekali aku keluar rumah buat ketemuan sama orang yang kiranya bikin worth it. Itu aja aku lakuin karena emang otak butuh ngobrol. Nggak sedikit pada bilang  aku manusia goa, karena jadi jarang keluar rumah dan jarang kelihatan. Jujur, aku bisa aja terlihat seperti seorang ekstroversion, tapi itu nggak menjamin aku bener-bener ngerasa nyaman sama mereka, I just try untuk tidak melukai perasaan mereka sewaktu berbicara sama aku, which is aku sendiri tetep bikin benteng, nggak semuanya bisa aku ceritain. I really appreciate about the privacy. Pernah juga ya waktu pulang kampung dulu, bayangin aja sebenernya pulang kampungnya itu udah ada sebulanan dan baru keluar rumah tau-tau ada tetangga pada tanya “pulang kapan, mbak shinta?” (wkwkkw padahal udah ada sebulan gue di rumah saking nggak pernah keluarnya). Because at that time people I met so far didn’t impress me.

Makin kesini makin bisa mikir untuk bisa lebih terbuka sama orang baru. Dan dipikir-pikir dengan lingkungan yang baru, baterai ku bisa penuh lagi dan kembali bersemangat untuk bersosialisasi. Akhirnya aku makin sering pergi sendirian dan kenalan sama orang lain. Jadi makin sadar kalo ternyata introversion itu bisa aku situasikan. Bisa nge-switch kapan aku harus introvert, kapan aku harus outgoing. Aku jadi ngerti sama diri sendiri, kalo ternyata aku nggak semata-mata malu atau susah buat berteman, tapi ternyata males aja kalo bertemannya cuma begitu doang. Buktinya ketika aku ketemu sama orang-orang ini, yang bisa aku ajak ngobrol panjang lebar dari A sampai Z, aku ngerasain kepuasan plus kesenengan tersendiri yang akhirnya aku nggak perlu pura-pura pake topeng, pura-pura warm, pura-pura sering ketawa, pura-pura jadi cewek rempong. I can be myself when I am with the right people.

Anyway,  ketika kalian melihat aku nyaman ngobrol dan bergaul dengan orang lain. Itu berarti aku sedang bersama orang-orang yang tepat.

Komentar

Tampilkan