Iklan

Latest Post


Janji di Senja Ramadhan

Bhumi Literasi
Senin, 03 Maret 2025, Maret 03, 2025 WIB Last Updated 2025-03-03T02:28:43Z


EPISODE 2

Mentari senja mulai merunduk saat Mas Bhumi melangkah keluar dari kampusnya. Senin yang padat dengan perkuliahan telah ia lalui, dan kini pikirannya tertuju pada janji yang ia buat bersama Pak Tigi. Di sepanjang perjalanan pulang, ia membayangkan bagaimana diskusi mereka nanti. Novel yang mereka rancang sudah mulai memiliki bentuk, dengan alur dan karakter yang semakin jelas dalam pikirannya.

Setibanya di rumah, Mas Bhumi segera membersihkan diri dan melaksanakan shalat ashar. Tak ingin membuang waktu, ia langsung menuju rumah Pak Tigi. Jalanan desa sore itu terasa lebih hidup dari biasanya. Anak-anak kecil bermain di lapangan, sementara ibu-ibu sibuk menyiapkan hidangan berbuka di dapur mereka. Suasana khas Ramadhan begitu terasa.

Di beranda rumah Pak Tigi, pria tua itu sudah menunggu dengan senyum hangatnya. Di hadapannya, sudah tersedia beberapa buku kuno yang sangat menarik. "Ah, Mas Bhumi, tepat waktu seperti biasa," sapa Pak Tigi sambil menyilakan duduk.

"Alhamdulillah, Pak Tigi. Hari ini kuliah padat, tapi semangat Mas Bhumi tetap tinggi buat melanjutkan proyek kita," jawab Mas Bhumi sambil membuka buku catatannya.

Pak Tigi mengangguk, lalu mengambil sebuah buku tua dari rak di belakangnya. "Hari ini, Pak Tigi ingin berbagi satu cerita yang mungkin bisa menjadi inspirasi untuk novel kita. Ini tentang seorang pemuda yang menemukan makna hidupnya di tengah perjalanan spiritualnya selama Ramadhan," ujar Pak Tigi, matanya berbinar penuh antusias.

Mas Bhumi mendengarkan dengan seksama. "Wah, menarik, Pak Tigi! Mungkin kita bisa memasukkan unsur perjalanan batin dalam novel ini. Jadi bukan sekedar kisah kehidupan sehari-hari, tapi ada nilai reflektif yang mendalam."

Pak Tigi tersenyum. "Tepat sekali. Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi juga tentang menemukan kembali diri kita. Bagaimana kalau kita buat tokohnya seorang pemuda yang awalnya hidup tanpa arah, lalu Ramadhan mengubahnya?"

Mas Bhumi menuliskan ide itu di buku catatannya. "Bagus, Pak Tigi. Kita bisa menonjolkan pengalaman spiritual dan pelajaran hidup dalam setiap babnya. Oh iya, bagaimana kalau kita menambahkan elemen sejarah atau kisah lama dari desa ini?"

Pak Tigi tertawa kecil. "Mas Bhumi memang selalu punya ide cemerlang. Baiklah, besok kita mulai menulis bab pertamanya. Sekarang, mari kita nikmati momen ngabuburit ini dengan diskusi yang ringan tapi berbobot."

Langit mulai berubah warna, pertanda waktu berbuka hampir tiba. Di antara alunan azan yang sebentar lagi berkumandang, dua jiwa berbeda generasi kembali meneguhkan janji mereka: menulis sesuatu yang akan dikenang, bahkan setelah mereka tiada.
Komentar

Tampilkan