Malam itu, kota terhampar dalam bisu hujan
deras yang turun dengan gemuruh lembut. Jalanan yang biasanya ramai dengan
kegiatan sehari-hari kini lengang, hanya dihiasi oleh titik-titik air yang
menari-nari di setiap sudut. Di sebuah kafe kecil yang tersembunyi di antara
gedung-gedung tinggi, seorang pria duduk di sudut jendela dengan secangkir kopi
hangat di tangan dan sebatang rokok di meja.
Namanya Dika, seorang penyair yang gemar
menyelami kata-kata di malam yang sepi. Setiap tetes hujan yang jatuh di
jendela kafe seolah-olah memainkan lagu-lagu kenangan yang terpendam dalam
hatinya. Di sampingnya, asap rokoknya bergulung-gulung menyatu dengan
percikan-percikan air hujan di luar.
Dika tidak sendirian. Di sebelahnya,
seorang wanita muda dengan payung transparan duduk dengan senyum tipis di
wajahnya. Nama wanita itu Anisa, seorang seniman yang menyukai senja dan aroma
kopi. Mereka sering bertemu di kafe ini, menemukan kehangatan di antara hujan
yang menderas.
"Malam ini sangat indah, bukan?"
ujar Anisa, suaranya sehalus tetes hujan di atap kafe.
Dika mengangguk, matanya terpaku pada
jendela yang memberikan pemandangan kota yang diselimuti embun. "Indah
sekali, seperti puisi yang belum terucap."
Keduanya terdiam sejenak, membiarkan hujan
yang terus turun menjadi saksi kesunyian yang indah. Mereka berbagi
cerita-cerita kecil tentang mimpi, kecintaan pada seni, dan kenangan-kenangan
yang terukir di antara setiap jatuhnya tetes hujan.
Pada akhirnya, kopi dan rokok mereka
habis, tapi cerita mereka belum selesai. Dika dan Anisa meninggalkan kafe
dengan langkah hati-hati di bawah payung transparan. Hujan deras masih menyapa
mereka di luar, tetapi kini dengan langkah mereka yang melangkah bersama, hujan
itu menjadi serangkaian puisi yang hidup di setiap jejak perjalanan mereka.

