Hujan deras turun begitu lebat,
menari-nari di atap rumah dan jendela-jendela. Tetapi, bagi Rani, hujan itu
bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan panggilan untuk menikmati
kebahagiaan yang unik. Di suatu sore yang mendung, Rani duduk di teras rumahnya,
menikmati tetes-tetes air yang jatuh dengan riang.
Saat hujan deras, Rani merasa seperti
terhubung langsung dengan alam. Air hujan yang membasahi tanah membawa aroma
bumi yang khas, menciptakan suasana yang begitu damai. Ia melangkah keluar
rumah, merasakan tetesan air hujan yang menyentuh wajahnya. Senyumnya merekah,
dan setiap langkahnya seolah menjadi tarian kecil diiringi suara gemercik air.
Rani merenungi kebahagiaannya di bawah
hujan deras. Ia merasakan getaran alam yang memberikan ketenangan dan
keceriaan. Setiap tetes hujan seakan membawa pesan-pesan kecil yang
mengingatkannya pada keindahan hidup. Rani tidak peduli dengan basahnya bajunya
atau rambutnya yang kusut. Baginya, hujan adalah pelukan lembut dari langit
yang mengajaknya untuk merayakan kehidupan.
Tak lama kemudian, tetangga Rani, Maya,
bergabung dengannya di teras. Keduanya tertawa ceria sambil menikmati hujan
yang semakin deras. Mereka berbagi cerita, mimpi, dan tawa di bawah payung
hujan yang menjadi saksi kebahagiaan mereka. Hujan deras yang semula hanya
mengenang keindahan alam, kini juga mengukir kenangan indah persahabatan.
Saat senja menjelang dan hujan mulai
mereda, Rani dan Maya duduk di teras dengan senyum yang masih melekat di wajah
mereka. Hujan deras telah memberikan pelajaran berharga: bahwa kebahagiaan tak
selalu datang dari hal-hal besar, melainkan dari sederhana seperti tetesan
hujan yang menyentuh hati.
"Senandung Bahagia Saat Hujan Deras" adalah kisah
tentang kebahagiaan sederhana yang dapat ditemukan di tengah-tengah alam.

