Iklan

Latest Post


Cahaya di Ujung Ramadhan

Bhumi Literasi
Sabtu, 08 Maret 2025, Maret 08, 2025 WIB Last Updated 2025-03-08T00:20:35Z

Ramadhan terus bergulir, dan setiap sore menjelang berbuka, Mas Bhumi selalu datang ke rumah Pak Tigi. Novel yang mereka rancang mulai terbentuk dengan lebih jelas. Setiap bab yang ditulis menjadi lebih dalam, lebih kaya makna, dan semakin menggambarkan perjalanan spiritual tokoh utama, Cupin.

Suatu sore, saat Mas Bhumi tiba di rumah Pak Tigi, ia menemukan pria tua itu duduk termenung di beranda. Di tangannya, ada secarik kertas kuning kecokelatan yang tampak usang.

"Pak Tigi, ada apa?" tanya Mas Bhumi sambil meletakkan tasnya di kursi kayu.

Pak Tigi tersenyum tipis lalu menyerahkan kertas itu kepada Mas Bhumi. "Ini surat dari seseorang yang dulu pernah aku kenal. Ia juga meniti cahaya Ramadhan seperti Cupin dalam cerita kita."

Mas Bhumi membaca surat itu perlahan. Isinya menggambarkan perjalanan seseorang yang dulunya jauh dari agama, namun akhirnya menemukan kedamaian dalam ibadah. Kisah itu begitu menyentuh hati, seolah menjadi cerminan perjalanan yang sedang mereka tulis.

"Pak Tigi, kita bisa memasukkan kisah ini dalam novel kita," ujar Mas Bhumi penuh semangat.

Pak Tigi mengangguk. "Itu juga yang kupikirkan. Terkadang, kisah nyata lebih menggugah daripada sekedar fiksi. Mari kita lanjutkan penulisan ini dengan lebih tulus."

Mereka pun kembali menulis, kali ini dengan semangat yang lebih besar. Bagi mereka, Ramadhan bukan hanya tentang ibadah dan menahan diri, tetapi juga tentang berbagi kisah yang bisa menjadi pelita bagi orang lain.

Malam itu, setelah menyelesaikan beberapa halaman, Mas Bhumi menatap Pak Tigi. "Menurut Pak Tigi, bagaimana akhir dari novel kita?"

Pak Tigi tersenyum bijak. "Akhir yang baik bukan berarti harus bahagia, Mas Bhumi. Tapi akhir yang bermakna adalah ketika pembaca bisa merasakan bahwa setiap perjalanan hidup memiliki hikmahnya."

Mas Bhumi mengangguk. Ia kini semakin mengerti bahwa menulis bukan hanya soal merangkai kata, tetapi juga soal menanamkan nilai kehidupan. Dalam perjalanan Ramadhan ini, bukan hanya tokoh dalam novel yang menemukan jati dirinya, tetapi juga mereka berdua.

Komentar

Tampilkan