Iklan

Latest Post


Perjalanan Seorang Anak dalam Memandang Ayah

Bhumi Literasi
Selasa, 11 Maret 2025, Maret 11, 2025 WIB Last Updated 2025-03-10T23:34:45Z

Setiap anak memiliki perjalanan emosional dalam memahami sosok ayahnya. Dari seorang pahlawan di masa kecil hingga menjadi figur yang sering disalahpahami saat remaja, hubungan ini terus berkembang seiring bertambahnya usia. Sayangnya, banyak dari kita baru menyadari betapa berharganya peran seorang ayah ketika waktu sudah berlalu.

Di usia dua tahun, seorang anak melihat ayahnya sebagai sosok yang menyenangkan. Ayah adalah teman bermain terbaik yang selalu ada untuk menemani, menggendong, dan menghibur. Setiap tawa dan kebersamaan terasa begitu alami tanpa ada pemikiran lain selain kegembiraan.

Memasuki usia lima tahun, kekaguman terhadap ayah semakin tumbuh. Anak mulai menganggap ayah sebagai pahlawan yang bisa melakukan apa saja. Dari memperbaiki mainan yang rusak hingga mengajarkan hal-hal sederhana, semuanya terlihat luar biasa di mata anak.

Saat menginjak usia dua belas tahun, keinginan untuk membuktikan diri mulai muncul. Anak ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu tanpa bantuan ayah. Momen ini menjadi awal dari perubahan cara pandang terhadap ayah, bukan lagi hanya sebagai sosok yang serba bisa, tetapi juga sebagai seseorang yang ingin mereka buat bangga.

Namun, ketika anak mencapai usia lima belas tahun, perubahan besar dalam pola pikir terjadi. Masa remaja membawa perasaan ingin lebih mandiri, dan kehadiran ayah terkadang dianggap sebagai batasan. Permintaan ayah untuk ikut serta dalam berbagai hal mulai ditolak, karena anak merasa cukup mampu melakukan segalanya sendiri.

Di usia tujuh belas tahun, hubungan dengan ayah semakin diuji. Perbedaan cara pandang dan aturan yang diterapkan sering kali dianggap sebagai bentuk kekangan. Nasihat ayah yang dulu didengar dengan penuh antusias, kini mulai terasa seperti beban yang mengganggu kebebasan.

Namun, seiring berjalannya waktu dan anak memasuki usia dua puluhan, perspektif mulai berubah. Menjalani kehidupan sebagai individu dewasa membuat anak menyadari bahwa dunia tidak semudah yang dibayangkan. Menjadi kepala keluarga, menghadapi tanggung jawab, dan menjalani berbagai tantangan hidup membuat mereka memahami beratnya beban yang selama ini dipikul ayah.

Di usia tiga puluh lima, anak mulai kembali mencari sosok ayah. Nasehat yang dulu dianggap membosankan kini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Perjalanan hidup mengajarkan bahwa pengalaman ayah adalah sumber kebijaksanaan yang tidak ternilai harganya.

Ketika mencapai usia empat puluh tahun, rasa rindu terhadap ayah semakin besar. Jika ayah masih ada, anak akan sering mencari waktu untuk berbincang. Jika ayah telah tiada, penyesalan mungkin mulai muncul, mengingat bagaimana dulu sering mengabaikan sosoknya.

Akhirnya, di usia empat puluh lima tahun, kesadaran penuh pun datang. Semua yang pernah dikatakan dan dilakukan oleh ayah ternyata benar. Penyesalan muncul karena dulu tidak lebih banyak mendengar dan memahami. Oleh karena itu, selagi waktu masih ada, jangan sia-siakan kesempatan untuk mencintai dan menghargai ayah.

Komentar

Tampilkan