Desa
Tenaru, yang terletak di Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa
Timur, menyimpan sejuta kenangan manis dari sebuah keluarga harmonis yang pernah tinggal di sana.
Beberapa puluh tahun yang lalu, di sebuah pawon rumah kecil nan sederhana di tengah-tengah
desa, terdapat 3 orang
yang sedang berkumpul dengan suasana santai, mereka adalah Mbah Santrian Bin Djali, Mbah
Solikhah Binti Hasan, dan Mbah Sumadha Bin Santrian.
Ketiganya
adalah pribadi yang bijaksana dan berbudi pekerti luhur, yang telah menyulam
benang-benang kebaikan selama hidup mereka. Meskipun kini mereka telah
berpulang ke rahmatullah, jejak kebahagiaan yang mereka tinggalkan tetap
menginspirasi masyarakat Desa Tenaru hingga saat ini.
Mbah
Santrian dan Mbah Solikhah, yang merupakan sepasang suami istri, adalah
cerminan dari cinta sejati dan kesetiaan. Mereka menjalani kehidupan bersama
dengan penuh kasih sayang, selalu saling mendukung dan menyemangati dalam
setiap perjalanan hidup. Dari pernikahan mereka, lahirlah empat orang anak yang
menjadi buah hati mereka: Mbah Sunani, Mbah Kesi, Mbah Sumadha, dan Mbah Sulen.
Rumah
mereka selalu terbuka lebar untuk keluarga dan tetangga. Di tengah-tengah
kesederhanaan, keluarga ini selalu menyambut siapa pun yang datang dengan tulus
dan ikhlas. Rumah mereka bukan hanya sekadar tempat tinggal, melainkan juga
menjadi tempat berbagi cerita, tawa, dan dukacita bersama.
Mbah
Sumadha, sebagai anak kandung Mbah Santrian dan Mbah Solikhah, tumbuh menjadi
sosok yang penuh kebaikan dan kesederhanaan. Ia mewarisi kepribadian bijaksana
kedua orangtuanya dan selalu berusaha menjadi sosok yang inspiratif bagi kakak dan adiknya.
Kisah
kebahagiaan mereka tidak hanya diisi oleh momen-momen penuh tawa, tetapi juga
melalui perjuangan bersama dalam menghadapi berbagai cobaan dan rintangan
hidup. Mereka belajar bahwa dalam kesulitan, kebersamaan dan saling mendukung
adalah kunci untuk tetap tegar dan optimis menghadapi masa depan.
Desa
Tenaru menjadi saksi bisu dari berbagai kenangan indah keluarga ini. Setiap
kali matahari terbenam, mereka sering duduk bersama di bawah pohon rindang di
halaman rumah, mengobrol tentang pengalaman hidup dan mengajar satu sama lain
tentang hikmah kehidupan.
Kebersamaan
mereka juga tercermin dalam kegiatan sehari-hari. Ketika ada tetangga yang
membutuhkan bantuan, tanpa ragu keluarga ini akan segera membantu. Mereka
memahami bahwa kebahagiaan sejati terletak pada bagaimana kita memberi dan
berbagi dengan orang lain.
Meskipun
Mbah Santrian, Mbah Solikhah,
dan Mbah Sumadha ini telah berpulang, warisan mereka tetap
hidup di tengah-tengah masyarakat Desa Tenaru. Nilai-nilai kearifan lokal dan
kebaikan hati yang telah mereka tanamkan menjadi contoh bagi generasi muda
untuk tetap menghargai dan merawat hubungan antarsesama.
Kisah
keluarga Mbah Santrian Bin Djali, dan Mbah Solikhah Binti Hasan, dan Mbah Sumadha Bin Santrian mengajarkan
kepada kita bahwa kebahagiaan sesungguhnya tidaklah terletak pada materi atau
harta yang dimiliki, melainkan pada hubungan yang akrab dan saling mencintai di
antara keluarga dan tetangga.
Desa
Tenaru, yang kini telah berkembang pesat, terus mengenang dengan penuh rasa
syukur kehadiran keluarga yang pernah menebarkan kebahagiaan di setiap
sudutnya. Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk senantiasa
hidup dalam harmoni, berbagi kasih sayang, dan selalu menghargai nilai-nilai
kekeluargaan.


