Perkembangan
teknologi yang cepat dan pesat telah merubah berbagai aspek kehidupan manusia,
termasuk dalam bidang pertahanan dan keamanan. Fenomena ini menjadi perhatian
serius, terutama bagi para pemimpin dan akademisi yang berfokus pada inovasi
kebijakan di berbagai lembaga pendidikan dan pemerintahan. Salah satu contohnya
adalah diskusi antara mahasiswa Program Magister Kepemimpinan dan Inovasi
Kebijakan Universitas Gadjah Mada (MKIK UGM) dan Brigjen TNI Fitry Taufiq
Sahary, S.E., M.M., yang saat ini sedang mengikuti Program Pendidikan Singkat
Angkatan (PPSA) XXIV Lemhannas RI.
Dalam
diskusi yang dilangsungkan pada suatu sore, kedua belah pihak sepakat bahwa
perkembangan teknologi yang begitu cepat memberikan dampak yang signifikan
terhadap berbagai sektor, termasuk pertahanan dan keamanan negara. Khususnya,
isu keamanan siber telah menjadi sorotan utama. Pada era digital ini, ancaman
siber dapat muncul dalam berbagai bentuk seperti serangan siber, pencurian
data, hingga diseminasi informasi palsu atau hoaks yang dapat mengganggu
stabilitas suatu negara.
Salah
satu aspek penting yang dibahas adalah perlunya sumber daya manusia (SDM) yang
memiliki kompetensi dalam bidang siber. Menguasai teknologi dan strategi
keamanan siber menjadi krusial guna melindungi sistem informasi pemerintahan,
infrastruktur kritis, serta data pribadi masyarakat dari ancaman siber yang
terus berkembang. Pendidikan dan pelatihan yang fokus pada keahlian siber perlu
ditingkatkan secara berkelanjutan agar Indonesia memiliki ahli-ahli siber yang
handal dan siap menghadapi tantangan keamanan siber di masa depan.
Selain
itu, kebijakan yang berkaitan dengan pertahanan siber juga menjadi bagian
esensial dalam upaya melindungi negara dari ancaman siber. Diskusi antara
mahasiswa MKIK UGM dan Brigjen TNI Fitry Taufiq Sahary menekankan pentingnya
mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan yang komprehensif dalam
menghadapi ancaman siber. Kebijakan tersebut harus mampu mengakomodasi aspek
teknis, hukum, diplomatik, dan sosial dalam menangani berbagai situasi yang
mungkin timbul.
Di
tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, Indonesia perlu berada di
garis depan dalam menghadapi tantangan keamanan siber. Pemerintah, lembaga
pendidikan, dan profesional di berbagai bidang harus bekerja sama untuk
memastikan bahwa negara memiliki SDM yang kompeten dan kebijakan yang tanggap
dalam mengatasi ancaman siber. Kehadiran mahasiswa dari MKIK UGM dan Brigjen
TNI Fitry Taufiq Sahary dalam diskusi ini menjadi bukti konkret bahwa kesadaran
akan pentingnya pertahanan siber sedang menjadi perhatian serius di kalangan
akademisi dan pemerintahan.
Sebagai bagian dari upaya menuju masyarakat digital yang aman, peran kolaboratif antara lembaga pendidikan tinggi, lembaga pemerintah, dan profesional di bidang teknologi menjadi kunci utama. Dengan menggabungkan pemahaman akan perkembangan teknologi, kepemimpinan, inovasi kebijakan, dan keahlian siber, Indonesia dapat menghadapi masa depan dengan lebih siap dan mengamankan aset-aset digitalnya dari ancaman yang mungkin timbul.


