I. Pendahuluan
Digitalisasi menjadi fondasi penting dalam mendukung
modernisasi berbagai sektor, termasuk militer. Di TNI AD, konsep Satu Data
diinisiasi sebagai langkah strategis untuk mengintegrasikan data yang
sebelumnya tersebar dalam berbagai sistem. Tujuan utama dari konsep ini adalah
meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional, baik dalam perencanaan
strategis, pengelolaan personel, hingga pengambilan keputusan yang berbasis
data akurat. Namun, di tengah manfaat besar yang ditawarkan digitalisasi,
ancaman keamanan data menjadi salah satu tantangan serius. Peretasan, pencurian
data, dan serangan siber lainnya dapat mengancam keamanan nasional jika data
sensitif dalam sistem ini tidak dilindungi dengan baik. Oleh karena itu,
keamanan data harus menjadi prioritas utama dalam implementasi Satu Data TNI
AD.
Namun, tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana
menjaga keamanan data dalam implementasi Satu Data TNI AD. Pertanyaan
ini menjadi krusial mengingat data yang dikelola tidak hanya bersifat strategis
tetapi juga sensitif, mencakup informasi tentang personel, logistik, hingga
rencana operasional. Tanpa pengamanan yang memadai, potensi kebocoran data atau
serangan siber dapat merusak integritas sistem serta memengaruhi kepercayaan
pengguna internal. Selain itu, keberadaan ancaman dari pihak eksternal seperti
hacker profesional maupun pihak internal yang tidak bertanggung jawab turut
menambah kerumitan dalam menjawab permasalahan ini.
Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya
keamanan data dalam implementasi Satu Data TNI AD sekaligus memberikan
rekomendasi untuk menjaga integritas, kerahasiaan, dan ketersediaan data.
Dengan analisis ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih
komprehensif mengenai ancaman yang dihadapi serta langkah-langkah mitigasi yang
bisa dilakukan. Selain itu, rekomendasi yang diberikan akan membantu TNI AD
untuk mengembangkan sistem yang tidak hanya efisien tetapi juga tahan terhadap
ancaman keamanan data yang semakin kompleks.
Pentingnya keamanan data dalam Satu Data TNI AD
tidak dapat dilepaskan dari integrasi berbagai komponen yang saling
berhubungan, seperti infrastruktur teknologi informasi, regulasi, dan sumber
daya manusia (SDM). Infrastruktur teknologi perlu didukung dengan sistem
keamanan canggih, seperti firewall, enkripsi data, dan teknologi deteksi
intrusi berbasis Artificial Intelligence (AI). Di sisi lain, regulasi
yang mengatur pengelolaan data sensitif harus diperkuat, termasuk penerapan
prinsip Zero Trust Architecture yang mengharuskan verifikasi berlapis
untuk setiap akses data. Selain itu, peningkatan kapasitas SDM melalui
pelatihan dan sertifikasi keamanan siber sangat diperlukan untuk memastikan
bahwa personel TNI AD memiliki keahlian yang mumpuni dalam mengelola dan
melindungi data.
Melalui pemahaman mendalam tentang keamanan data, TNI
AD dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk melindungi sistem data
terpadu mereka dari ancaman yang terus berkembang. Kerja sama dengan lembaga
seperti Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) serta kolaborasi dengan pakar
teknologi sipil dapat memperkuat infrastruktur dan prosedur keamanan. Dengan
demikian, implementasi Satu Data TNI AD tidak hanya berfungsi sebagai
pilar modernisasi, tetapi juga sebagai wujud komitmen untuk menjaga keamanan
nasional melalui pengelolaan data yang andal, aman, dan terpercaya.
II.
Konsep dan Implementasi Satu Data TNI AD
Satu Data TNI AD adalah sebuah inisiatif strategis untuk mengintegrasikan seluruh data
yang dimiliki TNI Angkatan Darat ke dalam satu sistem terpadu. Tujuan utama
dari konsep ini adalah untuk menciptakan basis data yang konsisten, akurat, dan
dapat diakses dengan mudah oleh pihak berwenang, sehingga mendukung efisiensi
operasional dan efektivitas dalam pengambilan keputusan. Dengan adanya Satu
Data, berbagai bidang di TNI AD, seperti manajemen personel, logistik,
pelatihan, dan operasi, dapat dikelola dengan lebih sistematis. Selain itu,
sistem ini juga bertujuan untuk mengurangi redundansi data yang sering terjadi
dalam pengelolaan manual serta meningkatkan responsivitas terhadap kebutuhan
operasional di era digital.
Implementasi Satu Data TNI AD melibatkan
beberapa komponen utama yang saling berkaitan. Pertama, infrastruktur teknologi
informasi menjadi fondasi penting dalam sistem ini. Infrastruktur tersebut
meliputi perangkat keras seperti server dan jaringan, serta perangkat lunak
yang mendukung integrasi dan pengolahan data secara real-time. Kedua,
pengelolaan basis data memegang peranan vital dalam memastikan data yang
tersimpan terstruktur dengan baik, dapat diakses dengan cepat, dan memiliki
standar yang seragam. Standarisasi ini penting untuk memastikan semua satuan
TNI AD, dari pusat hingga daerah, menggunakan data yang sama dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Selain itu, sistem keamanan siber menjadi elemen
krusial dalam implementasi Satu Data TNI AD. Dengan meningkatnya ancaman
siber di era digital, perlindungan data menjadi prioritas utama. Teknologi
keamanan seperti enkripsi data, deteksi intrusi, dan firewall digunakan untuk
mencegah akses tidak sah dan serangan dari pihak eksternal maupun internal.
Keamanan siber tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memerlukan kebijakan
yang jelas serta pelatihan kepada personel terkait pengelolaan data dan sistem
informasi. Dengan kombinasi antara infrastruktur teknologi yang kokoh,
pengelolaan basis data yang profesional, dan sistem keamanan yang kuat,
implementasi Satu Data TNI AD dapat berjalan optimal dan memberikan
kontribusi signifikan bagi modernisasi TNI AD.
III.
Ancaman dan Risiko Keamanan Data dalam Sistem Satu Data
Implementasi Satu Data TNI AD membawa potensi
besar untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional militer, tetapi
juga diiringi ancaman keamanan data yang signifikan. Salah satu ancaman utama
adalah insider threats, yaitu ancaman yang berasal dari pihak internal,
seperti personel yang tidak bertanggung jawab atau lalai dalam mengelola data.
Ancaman dari luar, seperti peretasan, serangan malware, dan phishing,
juga menjadi perhatian utama. Kelompok peretas, baik individu maupun yang
didukung oleh negara tertentu, dapat berusaha mencuri atau merusak data untuk
kepentingan strategis mereka. Dalam sistem yang mengintegrasikan data dari
seluruh satuan TNI AD, celah keamanan kecil sekalipun dapat dimanfaatkan untuk
mengakses informasi sensitif yang sangat strategis.
Risiko lainnya adalah potensi kebocoran data yang
dapat mengancam keamanan nasional. Informasi yang dikelola dalam Satu Data
mencakup berbagai aspek vital, seperti logistik, personel, hingga rencana
operasional. Jika data ini jatuh ke tangan yang salah, dampaknya bisa sangat
merugikan, termasuk terjadinya kebocoran strategi militer atau manipulasi data
yang merusak keputusan penting. Selain itu, kebocoran data dapat merusak
kepercayaan publik dan mengganggu kerja sama dengan pihak eksternal, baik di
tingkat nasional maupun internasional. Oleh karena itu, keamanan data harus
menjadi prioritas utama dalam setiap tahap implementasi sistem ini.
Ketergantungan pada teknologi modern dalam Satu
Data TNI AD juga membawa risiko tersendiri, yaitu potensi serangan siber
yang semakin kompleks. Teknologi yang menjadi tulang punggung sistem ini,
seperti jaringan, server, dan perangkat lunak, rentan terhadap serangan seperti
ransomware atau denial-of-service attacks. Serangan semacam ini
dapat mengganggu akses data atau bahkan melumpuhkan sistem secara keseluruhan.
Selain itu, kecepatan evolusi teknologi juga memaksa TNI AD untuk terus
memperbarui infrastruktur dan kemampuan sumber daya manusianya. Jika tidak
diimbangi dengan langkah mitigasi yang tepat, ketergantungan ini justru dapat
menjadi kelemahan sistem. Oleh karena itu, pengelolaan ancaman dan risiko harus
dilakukan secara komprehensif, mulai dari teknologi, kebijakan, hingga
pelatihan personel.
IV.
Strategi Keamanan Data dalam Implementasi Satu Data TNI AD
Untuk memastikan keberhasilan implementasi Satu
Data TNI AD, penguatan infrastruktur keamanan siber menjadi langkah pertama
yang harus dilakukan. Sistem ini harus dilengkapi dengan teknologi keamanan
mutakhir seperti firewall, enkripsi data, dan intrusion detection
systems (IDS) untuk mencegah akses tidak sah dan mendeteksi aktivitas
mencurigakan. Selain itu, pemanfaatan teknologi berbasis Artificial
Intelligence (AI) dapat meningkatkan kemampuan sistem untuk memantau dan
merespons ancaman secara real-time. AI mampu menganalisis pola serangan siber,
memberikan peringatan dini, dan bahkan mengotomatisasi langkah mitigasi untuk
melindungi data sensitif. Infrastruktur yang kuat ini merupakan fondasi penting
dalam menciptakan lingkungan digital yang aman bagi data strategis TNI AD.
Di samping teknologi, kebijakan dan regulasi yang
jelas sangat diperlukan untuk menjaga keamanan data dalam Satu Data TNI AD.
Penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang mengatur pengelolaan data
sensitif harus menjadi pedoman bagi seluruh personel yang terlibat. Salah satu
pendekatan yang dapat diterapkan adalah prinsip Zero Trust Architecture,
di mana akses data hanya diberikan berdasarkan autentikasi yang ketat dan
prinsip "tidak mempercayai siapa pun" secara otomatis, baik dari
pihak internal maupun eksternal. Regulasi ini juga harus mencakup mekanisme
audit berkala untuk memastikan bahwa setiap akses dan penggunaan data sesuai
dengan protokol keamanan yang berlaku.
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM)
merupakan elemen kunci lain dalam strategi keamanan data. Personel TNI AD yang
terlibat dalam pengelolaan Satu Data harus mengikuti pelatihan dan
sertifikasi terkait keamanan siber, seperti pelatihan tentang enkripsi,
manajemen risiko, dan respons insiden. Selain itu, program kesadaran keamanan
digital juga penting untuk membangun pemahaman mengenai ancaman siber yang
terus berkembang. Dengan demikian, personel dapat lebih waspada terhadap
potensi serangan, termasuk serangan berbasis sosial seperti phishing dan
manipulasi psikologis (social engineering).
Kerja sama dan kolaborasi dengan pihak eksternal juga
diperlukan untuk memperkuat keamanan data. TNI AD dapat bersinergi dengan
lembaga-lembaga terkait, seperti Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), untuk
mendapatkan dukungan teknis dan regulasi dalam menjaga data strategis. Selain
itu, kolaborasi dengan ahli teknologi informasi dari sipil, termasuk akademisi
dan perusahaan teknologi, dapat memperkaya pendekatan dan solusi keamanan yang
diterapkan. Langkah ini akan membantu TNI AD tetap selangkah lebih maju dalam
menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.
Dengan mengintegrasikan penguatan infrastruktur
teknologi, kebijakan yang ketat, peningkatan kapasitas SDM, serta kolaborasi
dengan berbagai pihak, TNI AD dapat menghadirkan sistem Satu Data yang
tidak hanya efisien tetapi juga aman. Langkah-langkah strategis ini akan
memastikan bahwa data yang tersimpan tetap terlindungi dari berbagai ancaman,
sekaligus mendukung modernisasi militer yang tangguh dan berdaya saing di era
digital. Keamanan data dalam Satu Data TNI AD bukan hanya soal
teknologi, tetapi juga melibatkan sinergi antara manusia, kebijakan, dan kerja
sama lintas sektor.
V.
Kesimpulan
Keamanan data merupakan aspek krusial dalam
implementasi Satu Data TNI AD untuk mendukung modernisasi dan efisiensi
operasional militer di era digital. Integrasi data dalam sistem ini memberikan
peluang besar bagi TNI AD untuk meningkatkan pengambilan keputusan strategis,
namun juga membawa tantangan berupa ancaman siber dan risiko kebocoran data
yang dapat mengancam keamanan nasional. Oleh karena itu, pendekatan yang
komprehensif diperlukan untuk melindungi data sensitif yang dikelola.
Strategi utama meliputi penguatan infrastruktur
keamanan siber dengan teknologi mutakhir seperti firewall, enkripsi, dan
Artificial Intelligence; penerapan kebijakan yang ketat melalui standar
operasional prosedur dan prinsip Zero Trust Architecture; serta
peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan kesadaran keamanan digital.
Selain itu, kolaborasi dengan lembaga terkait dan sipil menjadi kunci untuk
menghadirkan solusi inovatif yang relevan dalam menghadapi ancaman siber yang
terus berkembang.
Dengan mengintegrasikan elemen-elemen tersebut, TNI AD
dapat memastikan bahwa data strategis yang dikelola dalam sistem Satu Data
tetap terlindungi, sehingga mampu mendukung operasional yang aman, efisien, dan
modern. Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi TNI AD dalam menghadapi
tantangan era digital, tetapi juga menjadi wujud nyata komitmen dalam menjaga
keamanan dan kedaulatan negara.
VI. Rekomendasi
TNI AD perlu terus mengembangkan dan memperkuat
infrastruktur keamanan siber dengan teknologi terbaru, seperti next-gen
firewall, sistem deteksi intrusi yang lebih canggih, serta enkripsi data
end-to-end. Selain itu, pemanfaatan Artificial Intelligence dalam
memantau ancaman secara real-time harus dioptimalkan, memungkinkan sistem untuk
secara otomatis mendeteksi dan merespons ancaman dengan cepat. Pembaruan dan
pemeliharaan berkala terhadap infrastruktur ini sangat penting untuk menjaga
keamanan data secara berkelanjutan.
TNI AD harus menerapkan kebijakan yang jelas dan ketat
terkait pengelolaan data sensitif dengan standar operasional prosedur (SOP)
yang terperinci. Penerapan Zero Trust Architecture sebaiknya diperluas
agar hanya personel yang terautentikasi dan berwenang yang dapat mengakses data
tertentu. Selain itu, audit berkala harus dilakukan untuk memastikan bahwa
kebijakan dan prosedur yang diterapkan selalu sesuai dengan perkembangan ancaman
siber.
Untuk memperkuat keamanan data, pelatihan keamanan
siber bagi personel TNI AD harus menjadi prioritas. Selain memberikan pelatihan
teknis, program peningkatan kesadaran akan ancaman digital harus dijalankan
untuk meningkatkan kewaspadaan personel terhadap serangan berbasis sosial dan
rekayasa psikologis. Sertifikasi terkait keamanan siber juga harus
diperkenalkan untuk memastikan bahwa personel memiliki kompetensi yang cukup
untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang.
TNI AD sebaiknya memperkuat kolaborasi dengan Badan
Siber dan Sandi Negara (BSSN) serta lembaga terkait lainnya dalam rangka
berbagi informasi dan pengalaman terkait ancaman siber. Selain itu, kemitraan
dengan sipil, termasuk perusahaan teknologi dan lembaga pendidikan, sangat
diperlukan untuk memanfaatkan teknologi terbaru dan membangun kapasitas SDM
dalam menghadapi ancaman yang lebih kompleks di masa depan.
TNI AD perlu menyusun rencana pemulihan dan respons
insiden yang efektif untuk menghadapi kemungkinan serangan siber yang dapat
mengganggu operasional sistem Satu Data. Langkah-langkah mitigasi yang
jelas dan terorganisir dapat mempercepat proses pemulihan jika terjadi insiden,
serta meminimalkan kerugian yang ditimbulkan. Pelaksanaan latihan dan simulasi
serangan siber secara berkala akan membantu personel TNI AD mempersiapkan diri
untuk menghadapi situasi darurat tersebut.
Dengan menerapkan rekomendasi-rekomendasi ini, TNI AD
dapat meningkatkan tingkat keamanan data dalam sistem Satu Data,
memastikan bahwa data sensitif tetap terlindungi, serta memaksimalkan
efektivitas operasional militer dalam menghadapi tantangan di dunia digital
yang terus berkembang.
VII.
Daftar Pustaka
Ary Yudhistianto, S., SE, S., & Siti Chaeriah, E.
(2017). The Effect of Styles of Leadership and Work Discipline on Performance
Through Motivation as Intervening Variables at the Information and Data
Processing of TNI AD (Disinfolahtad). International Journal of Business
and Applied Social Science (IJBASS), 3(12).
He, Y., Huang, D., Chen, L., Ni, Y., & Ma, X.
(2022). A survey on zero trust architecture: Challenges and future
trends. Wireless Communications and Mobile Computing, 2022(1),
6476274.
Mutaqin, R., Sahary, F. T., Mutaqin, G., & Dharmopadni,
D. S. (2023). Peran Disinfolahtad dalam mempercepat transformasi digital di
lingkungan TNI AD. Academia Praja: Jurnal Ilmu Politik, Pemerintahan,
Dan Administrasi Publik, 6(2), 229-244.
Mutaqin, R., Mutaqin, G., Sahary, F. T., &
Dharmopadni, D. S. (2023). The Impact of Indonesian Army Information and Data
Processing Service Department Programming Training for Indonesian Army. Jurnal
Pertahanan: Media Informasi ttg Kajian & Strategi Pertahanan yang
Mengedepankan Identity, Nasionalism & Integrity, 9(2),
420-426.
Mutaqin, R. (2023). Anak IT Juga Bisa Jadi
Tentara. Nas Media Pustaka.
Mutaqin, R., Mutaqin, G., & Dharmopadni, D. S.
(2024). Dampak perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terhadap dinas
militer. Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(3), 199-204.
Stafford, V. (2020). Zero trust architecture. NIST
special publication, 800, 207.
Teerakanok, S., Uehara, T., & Inomata, A. (2021).
Migrating to zero trust architecture: Reviews and challenges. Security
and Communication Networks, 2021(1), 9947347.
Udayana, P. A., Legionosukmo, T., & Sundari, S. (2022). STRATEGY FOR INTEGRATED LAND INFORMATION SYSTEM NETWORK ARRANGEMENTS FOR THE INDONESIAN NATIONAL ARMY. Strategi Pertahanan Darat (JSPD), 8(1).

