Aku mencoba menyapa Rina, teman sebangkuku, saat ia memasuki kelas. "Pagi, Rin!" seruku dengan senyum kecil.
Ia hanya melirik sekilas lalu berlalu tanpa menjawab. Mungkin tidak mendengar? Tapi ini bukan pertama kalinya.
Saat jam istirahat, aku duduk di bangku taman sekolah, mengaduk-aduk bekalku yang tiba-tiba terasa hambar. Di sekelilingku, kelompok-kelompok siswa berkumpul, berbagi cerita dan tawa. Aku menelan ludah, merasakan sesuatu menekan dadaku. Kenapa rasanya aku tidak pernah benar-benar ada di antara mereka?
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi pesan. Tidak ada notifikasi. Tidak ada yang menanyakan kabarku, tidak ada yang sekedar mengajak berbicara. Aku mengetik pesan ke grup kelas: Ada yang bisa bantu aku dengan tugas matematika?
Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit berlalu. Tidak ada yang membalas. Namun, aku melihat mereka terus bercanda di grup, membalas pesan satu sama lain.
Aku menggigit bibir bawahku, menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyergap.
Sore harinya, hujan turun deras saat aku berjalan pulang. Aku tidak membawa payung, dan tidak ada yang menawarkan untuk berbagi. Aku berjalan sendiri, merasakan setiap tetes air yang mengenai wajahku, bercampur dengan sesuatu yang lebih hangat—air mata yang akhirnya jatuh.
Aku ingin bertanya, "Apa aku begitu tidak penting?" Tapi kepada siapa aku harus bertanya?
Di rumah, aku membanting tas ke tempat tidur dan menatap langit-langit. Aku mengambil ponsel dan mengetik sesuatu di media sosial:
"Terkadang, lebih menyakitkan diabaikan daripada dibenci."
Aku menekan tombol kirim, lalu melempar ponsel ke samping.
Tak lama, layar berkedip. Satu notifikasi masuk.
"Kamu nggak sendirian. Aku di sini kalau mau cerita."
Jantungku berdegup sedikit lebih ringan. Mungkin, aku tidak sepenuhnya tak terlihat.

