Iklan

Latest Post


Kata-Kata Yang Berjalan

Bhumi Literasi
Senin, 03 Maret 2025, Maret 03, 2025 WIB Last Updated 2025-03-03T02:00:22Z


Bhumi Literasi Anak Bangsa selalu punya cara unik untuk menyebarkan semangat literasi. Kali ini, mereka meluncurkan sesuatu yang berbeda: kaos quotes. Ide ini muncul dari banyaknya pegiat literasi yang ingin membawa pesan-pesan inspiratif ke kehidupan sehari-hari, tidak hanya melalui buku, tetapi juga pakaian yang mereka kenakan.

Rizal, seorang pemuda yang aktif dalam komunitas literasi, langsung tertarik begitu mendengar rencana ini. "Bayangkan, kita bisa menyebarkan pesan baik hanya dengan berjalan di tengah keramaian," ujarnya kepada teman-temannya saat diskusi di kafe. Mereka sepakat bahwa kaos ini bukan sekedar pakaian, tetapi media untuk menggerakkan pikiran banyak orang.

Desain kaos pun dibuat dengan penuh pertimbangan. Bhumi Literasi tidak hanya memilih kutipan dari tokoh besar, tetapi juga dari penulis-penulis lokal yang belum banyak dikenal. "Setiap kata punya kekuatan," kata Shinta, salah satu desainer kaos. "Bahkan satu kalimat sederhana bisa mengubah cara berpikir seseorang."

Salah satu desain yang menarik perhatian adalah kaos dengan tulisan: "Buku tidak pernah menghakimi, ia hanya memberi pemahaman." Banyak orang yang merasa terhubung dengan kutipan ini, terutama mereka yang menjadikan buku sebagai teman setia dalam memahami dunia.

Ketika kaos-kaos ini mulai diproduksi dan dijual, dampaknya langsung terasa. Beberapa pelanggan mulai membagikan kisah mereka di media sosial, bagaimana sebuah kalimat di kaos bisa memulai percakapan atau bahkan memberi inspirasi kepada orang lain.

Sebuah kejadian menarik terjadi di stasiun kereta. Seorang pria tua memperhatikan kaos yang dikenakan Rizal, yang bertuliskan: "Membaca itu seperti berpetualang tanpa harus melangkah." Pria itu tersenyum dan berkata, "Kalimat ini mengingatkan saya pada masa muda, saat saya menjelajahi dunia melalui buku." Percakapan pun berlanjut, dan Rizal merasa bahwa misi Bhumi Literasi benar-benar berjalan.

Tidak hanya di kota, kaos ini juga sampai ke daerah pelosok. Seorang guru di desa kecil membelikan kaos untuk murid-muridnya sebagai bentuk apresiasi. "Mereka jadi lebih penasaran dengan dunia literasi," katanya. Beberapa murid bahkan mulai menuliskan kutipan mereka sendiri, berharap suatu hari kata-kata mereka juga bisa dikenakan orang lain.

Bhumi Literasi menyadari bahwa proyek ini lebih dari sekedar bisnis. Ini adalah pergerakan untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan cara yang sederhana, melalui kaos yang dikenakan setiap hari, mereka berhasil menyisipkan makna di dalamnya.

Rizal, Shinta, dan seluruh tim Bhumi Literasi semakin bersemangat. Mereka mulai merencanakan koleksi berikutnya, mungkin dengan tema-tema spesifik seperti kepemimpinan, mimpi, atau perjuangan. Mereka percaya, selama masih ada kata-kata yang bisa menginspirasi, masih ada harapan untuk dunia yang lebih baik.

Pada akhirnya, mereka menyadari satu hal: literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi tentang bagaimana kata-kata bisa berjalan, menemui orang-orang, dan mengubah hidup mereka.
Komentar

Tampilkan