Bulan Ramadhan selalu menjadi momen istimewa bagi banyak orang. Selain sebagai waktu untuk memperbanyak ibadah, Ramadhan juga menjadi saat yang tepat untuk mengejar impian dan menebar inspirasi. Salah satu kisah menarik datang dari istriku yang tetap aktif menulis selama bulan suci ini. Tak hanya berbagi tips bermanfaat, ia juga rajin menulis cerita fiksi, termasuk cerpen harian yang menceritakan kisah Mas Bhumi dan Pak Tigi.
Dalam cerpen yang ditulisnya, Mas Bhumi dan Pak Tigi bukan hanya sekedar sahabat, tetapi juga berbagi mimpi yang sama, menulis sebuah novel selama bulan Ramadhan. Mereka berdua percaya bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menantang diri, mendisiplinkan kebiasaan, dan berkarya dengan penuh semangat. Janji mereka bukan sekedar janji biasa, melainkan tekad untuk membuktikan bahwa berkarya adalah bagian dari ibadah.
Mas Bhumi, dengan ketekunan dan semangatnya, mulai menulis setiap hari. Ia menyusun alur cerita, mengembangkan karakter, dan menggali ide-ide baru yang dapat menginspirasi banyak orang. Di sisi lain, Pak Tigi yang memiliki pengalaman luas dalam dunia literasi turut mendukungnya. Mereka saling mengingatkan dan menyemangati, agar tidak menyerah di tengah jalan.
Setiap malam setelah tarawih, keduanya duduk bersama, berbagi cerita, dan mendiskusikan perkembangan novel mereka. Bagi mereka, menulis bukan sekedar menuangkan kata-kata di atas kertas, tetapi juga merenungkan kehidupan, mengambil pelajaran, dan menyampaikan pesan yang dapat mengubah cara pandang orang lain.
Tak jarang, keduanya mengalami kebuntuan ide. Namun, semangat Ramadhan mengajarkan mereka tentang kesabaran dan keikhlasan. Mereka pun belajar bahwa menulis adalah proses panjang yang membutuhkan ketekunan dan kepercayaan diri. Setiap huruf yang mereka susun menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju karya yang lebih besar.
Seiring berjalannya waktu, novel yang mereka tulis mulai membentuk kerangka yang solid. Setiap bab yang tersusun menjadi bukti nyata bahwa janji yang mereka buat bukanlah sesuatu yang mustahil. Mereka menyadari bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat.
Cerpen yang ditulis oleh istriku ini tidak hanya menggambarkan kisah fiktif, tetapi juga menggugah banyak orang untuk terus berkarya. Kisah Mas Bhumi dan Pak Tigi menjadi cerminan bahwa siapa pun bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa jika memiliki niat dan disiplin yang kuat.
Lebih dari sekedar menulis novel, perjalanan Mas Bhumi dan Pak Tigi juga mengajarkan tentang kebersamaan dan saling mendukung. Mereka membuktikan bahwa dengan semangat gotong royong, impian yang besar bisa lebih mudah diwujudkan. Ramadhan menjadi saksi perjuangan mereka dalam menaklukkan tantangan demi mencapai tujuan.
Akhirnya, setelah satu bulan penuh perjuangan, mereka berhasil menyelesaikan novel yang mereka impikan. Novel itu bukan hanya hasil kerja keras mereka, tetapi juga simbol dari ketekunan dan dedikasi selama Ramadhan. Kisah mereka menjadi bukti bahwa bulan suci ini bukan hanya tentang beribadah secara ritual, tetapi juga tentang mengembangkan potensi diri dan berbagi inspirasi.
Melalui cerpen harian yang ditulis istriku, kisah Mas Bhumi dan Pak Tigi telah menginspirasi banyak orang untuk berani bermimpi dan berkomitmen. Ramadhan mengajarkan bahwa setiap tantangan bisa dihadapi dengan keteguhan hati, dan setiap impian bisa diwujudkan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Siapa tahu, tahun depan akan ada lebih banyak orang yang terinspirasi untuk menulis dan berkarya di bulan yang penuh berkah ini.


