Iklan

Latest Post


Meniti Cahaya Ramadhan

Bhumi Literasi
Selasa, 04 Maret 2025, Maret 04, 2025 WIB Last Updated 2025-03-04T06:19:41Z



EPISODE 3

Malam itu, setelah berbuka puasa dan menunaikan shalat tarawih, Mas Bhumi kembali ke rumahnya. Ia membuka catatan yang telah ditulisnya selama diskusi bersama Pak Tigi. Semangatnya masih membara, membayangkan seperti apa novel yang akan mereka hasilkan. Baginya, ini bukan sekedar proyek ngabuburit, tetapi sebuah perjalanan batin yang harus ia jalani sepenuh hati.

Keesokan harinya, setelah menyelesaikan kuliah paginya, Mas Bhumi segera bergegas ke rumah Pak Tigi. Di beranda, pria tua itu sudah menunggunya dengan sebuah buku usang di tangannya. "Hari ini kita mulai menulis, Mas Bhumi. Sudah siap?" tanya Pak Tigi dengan senyum bijak.

"Siap, Pak! Saya sudah memikirkan bagaimana cara memulai bab pertama kita," jawab Mas Bhumi dengan antusias. Ia mengambil laptopnya dari dalam tas dan mulai mengetik beberapa kalimat pembuka.

Pak Tigi menghela napas panjang sebelum mulai bercerita. "Dulu, ada seorang pemuda bernama Cupin yang hidup tanpa tujuan. Ia hanya menjalani hidup tanpa arah, sampai suatu hari ia bertemu seorang ulama yang membimbingnya selama Ramadhan."

Mas Bhumi mengangguk. "Saya pikir, kita bisa menggambarkan perubahan Cupin secara perlahan. Mungkin dia awalnya menolak ajaran ulama itu, tapi seiring waktu, hatinya mulai terbuka."

Pak Tigi tersenyum. "Tepat sekali. Begitulah manusia. Hidayah tidak selalu datang secara tiba-tiba, tetapi bisa tumbuh seiring dengan ketulusan dan usaha untuk berubah."

Menjelang sore, Mas Bhumi sudah menulis beberapa halaman. Ia merasa puas dengan perkembangan cerita mereka. Sambil menikmati suasana Ramadhan, ia menatap Pak Tigi dan berkata, "Saya semakin yakin bahwa novel ini akan menjadi sesuatu yang berharga, Pak. Semoga banyak orang yang mendapatkan pelajaran darinya."

Pak Tigi menepuk bahu Mas Bhumi. "Ingat, menulis bukan hanya soal menghasilkan karya, tapi juga bagaimana kita menanamkan nilai kehidupan di dalamnya. Kita meniti cahaya Ramadhan bersama, Mas Bhumi."

Azan maghrib berkumandang, menandai waktu berbuka. Di rumah sederhana itu, dua generasi yang berbeda terus menuliskan cerita, bukan hanya di atas kertas, tetapi juga dalam hati mereka masing-masing.

Komentar

Tampilkan