EPISODE
3
Malam itu, setelah berbuka puasa dan menunaikan shalat
tarawih, Mas Bhumi kembali ke rumahnya. Ia membuka catatan yang telah
ditulisnya selama diskusi bersama Pak Tigi. Semangatnya masih membara,
membayangkan seperti apa novel yang akan mereka hasilkan. Baginya, ini bukan
sekedar proyek ngabuburit, tetapi sebuah perjalanan batin yang harus ia jalani
sepenuh hati.
Keesokan harinya, setelah menyelesaikan kuliah
paginya, Mas Bhumi segera bergegas ke rumah Pak Tigi. Di beranda, pria tua itu
sudah menunggunya dengan sebuah buku usang di tangannya. "Hari ini kita
mulai menulis, Mas Bhumi. Sudah siap?" tanya Pak Tigi dengan senyum
bijak.
"Siap, Pak! Saya sudah memikirkan bagaimana cara
memulai bab pertama kita,"
jawab Mas Bhumi dengan antusias. Ia mengambil laptopnya dari dalam tas dan
mulai mengetik beberapa kalimat pembuka.
Pak Tigi menghela napas panjang sebelum mulai
bercerita. "Dulu, ada seorang pemuda bernama Cupin yang hidup tanpa
tujuan. Ia hanya menjalani hidup tanpa arah, sampai suatu hari ia bertemu
seorang ulama yang membimbingnya selama Ramadhan."
Mas Bhumi mengangguk. "Saya pikir, kita bisa
menggambarkan perubahan Cupin secara perlahan. Mungkin dia awalnya menolak
ajaran ulama itu, tapi seiring waktu, hatinya mulai terbuka."
Pak Tigi tersenyum. "Tepat sekali. Begitulah
manusia. Hidayah tidak selalu datang secara tiba-tiba, tetapi bisa tumbuh
seiring dengan ketulusan dan usaha untuk berubah."
Menjelang sore, Mas Bhumi sudah menulis beberapa
halaman. Ia merasa puas dengan perkembangan cerita mereka. Sambil menikmati
suasana Ramadhan, ia menatap Pak Tigi dan berkata, "Saya semakin yakin
bahwa novel ini akan menjadi sesuatu yang berharga, Pak. Semoga banyak orang
yang mendapatkan pelajaran darinya."
Pak Tigi menepuk bahu Mas Bhumi. "Ingat,
menulis bukan hanya soal menghasilkan karya, tapi juga bagaimana kita
menanamkan nilai kehidupan di dalamnya. Kita meniti cahaya Ramadhan bersama,
Mas Bhumi."
Azan maghrib berkumandang, menandai waktu berbuka. Di rumah sederhana itu, dua generasi yang berbeda terus menuliskan cerita, bukan hanya di atas kertas, tetapi juga dalam hati mereka masing-masing.


