EPISODE 6
Puasa telah memasuki hari ke-17. Mas Bhumi dan Pak
Tigi semakin bersemangat menyelesaikan novel mereka. Setiap sore menjelang
berbuka, mereka duduk bersama di beranda rumah Pak Tigi, membahas alur cerita
yang semakin mendalam. Novel itu kini hampir memasuki klimaks, dan mereka ingin
memastikan setiap bagian memiliki makna yang mendalam.
Sore itu, langit tampak mendung, tetapi suasana desa
tetap hidup dengan suara anak-anak yang bermain dan lantunan ayat suci dari
masjid. Mas Bhumi menghela napas panjang, menatap naskah di depannya. "Pak
Tigi, kita sudah hampir sampai di bagian penting dalam novel ini. Bagaimana
sebaiknya kita menggambarkan titik balik kehidupan Cupin?"
Pak Tigi tersenyum, sembil membolak-balik buku kuno di
tangannya. "Terkadang, perubahan datang di saat kita tak menduganya.
Bagaimana jika Cupin mengalami suatu peristiwa yang membuatnya benar-benar
sadar akan makna Ramadhan?"
Mas Bhumi mengangguk. "Mungkin sebuah kejadian
yang menguji kesabarannya? Atau pertemuan dengan seseorang yang mengubah
pandangannya?"
Pak Tigi mengangguk setuju. "Bisa jadi.
Mungkin dia bertemu dengan seorang musafir yang kehilangan arah, lalu dari situ
dia belajar tentang ketulusan dan arti berbagi."
Di luar, azan maghrib mulai berkumandang. Mereka
berhenti sejenak, menikmati buka puasa dengan singkong rebus dan teh hangat.
Setelah shalat, mereka kembali ke beranda, melanjutkan diskusi yang semakin
menarik.
"Malam ini kita bisa menulis bagian itu," ujar Mas Bhumi sambil membuka laptopnya. "Saya
ingin menunjukkan bahwa perubahan seseorang tidak selalu harus dramatis, tapi
bisa terjadi dalam keheningan dan perenungan."
Pak Tigi tersenyum bangga. "Kamu semakin
memahami esensi menulis, Mas Bhumi. Menulis bukan hanya soal bercerita, tapi
juga soal menyampaikan pesan yang bisa menggugah hati pembaca."
Tak terasa adzan isya mulai terdengar, Mas Bhumi dan
Pak Tigi segera beranjak dari duduknya untuk berangkat ke masjid Bersama untuk
melaksanakan sholat isya dan tarawih.
Selesai tarawih, Mas Bhumi dan Pak Tigi Kembali ke
beranda rumah Pak Tigi untuk melanjutkan diskusi yang semakin seru. Tak terasa
malam semakin larut, tapi semangat mereka tak padam. Di bawah langit Ramadhan
yang semakin mendekati malam-malam terakhirnya, mereka terus menulis, berharap
novel ini tak hanya menjadi sebuah karya, tetapi juga warisan yang penuh makna.
"Sebentar lagi Ramadhan akan berakhir," kata Mas Bhumi pelan. "Tapi saya merasa
perjalanan ini baru saja dimulai."
Pak Tigi menepuk bahunya. "Perjalanan menemukan makna memang tak pernah benar-benar berakhir, Mas Bhumi. Tapi kita bisa memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil berarti."


