Iklan

Latest Post


Menyambut Fajar Kemenangan

Bhumi Literasi
Senin, 17 Maret 2025, Maret 17, 2025 WIB Last Updated 2025-03-16T23:42:28Z


EPISODE 6  

Puasa telah memasuki hari ke-17. Mas Bhumi dan Pak Tigi semakin bersemangat menyelesaikan novel mereka. Setiap sore menjelang berbuka, mereka duduk bersama di beranda rumah Pak Tigi, membahas alur cerita yang semakin mendalam. Novel itu kini hampir memasuki klimaks, dan mereka ingin memastikan setiap bagian memiliki makna yang mendalam.

Sore itu, langit tampak mendung, tetapi suasana desa tetap hidup dengan suara anak-anak yang bermain dan lantunan ayat suci dari masjid. Mas Bhumi menghela napas panjang, menatap naskah di depannya. "Pak Tigi, kita sudah hampir sampai di bagian penting dalam novel ini. Bagaimana sebaiknya kita menggambarkan titik balik kehidupan Cupin?"

Pak Tigi tersenyum, sembil membolak-balik buku kuno di tangannya. "Terkadang, perubahan datang di saat kita tak menduganya. Bagaimana jika Cupin mengalami suatu peristiwa yang membuatnya benar-benar sadar akan makna Ramadhan?"

Mas Bhumi mengangguk. "Mungkin sebuah kejadian yang menguji kesabarannya? Atau pertemuan dengan seseorang yang mengubah pandangannya?"

Pak Tigi mengangguk setuju. "Bisa jadi. Mungkin dia bertemu dengan seorang musafir yang kehilangan arah, lalu dari situ dia belajar tentang ketulusan dan arti berbagi."

Di luar, azan maghrib mulai berkumandang. Mereka berhenti sejenak, menikmati buka puasa dengan singkong rebus dan teh hangat. Setelah shalat, mereka kembali ke beranda, melanjutkan diskusi yang semakin menarik.

"Malam ini kita bisa menulis bagian itu," ujar Mas Bhumi sambil membuka laptopnya. "Saya ingin menunjukkan bahwa perubahan seseorang tidak selalu harus dramatis, tapi bisa terjadi dalam keheningan dan perenungan."

Pak Tigi tersenyum bangga. "Kamu semakin memahami esensi menulis, Mas Bhumi. Menulis bukan hanya soal bercerita, tapi juga soal menyampaikan pesan yang bisa menggugah hati pembaca."

Tak terasa adzan isya mulai terdengar, Mas Bhumi dan Pak Tigi segera beranjak dari duduknya untuk berangkat ke masjid Bersama untuk melaksanakan sholat isya dan tarawih.

Selesai tarawih, Mas Bhumi dan Pak Tigi Kembali ke beranda rumah Pak Tigi untuk melanjutkan diskusi yang semakin seru. Tak terasa malam semakin larut, tapi semangat mereka tak padam. Di bawah langit Ramadhan yang semakin mendekati malam-malam terakhirnya, mereka terus menulis, berharap novel ini tak hanya menjadi sebuah karya, tetapi juga warisan yang penuh makna.

"Sebentar lagi Ramadhan akan berakhir," kata Mas Bhumi pelan. "Tapi saya merasa perjalanan ini baru saja dimulai."

Pak Tigi menepuk bahunya. "Perjalanan menemukan makna memang tak pernah benar-benar berakhir, Mas Bhumi. Tapi kita bisa memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil berarti."

Komentar

Tampilkan