EPISODE 7
Ramadhan semakin mendekati akhir, dan suasana desa
mulai dipenuhi hiruk-pikuk persiapan Lebaran. Mas Bhumi duduk di beranda rumah
Pak Tigi, menatap naskah yang telah mereka susun bersama. Novel mereka kini
telah mencapai 75%, dan ia bertekad untuk menyelesaikan 80% sebelum berangkat
mudik ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Pak Tigi, saya akan mudik minggu depan,” ujar Mas Bhumi sambil menyeruput teh hangat. “Saya
ingin menulis bagian akhir novel ini sambil menikmati suasana desa di kampung
halaman.”
Pak Tigi tersenyum, memahami semangat anak muda di
depannya. “Itu ide bagus, Mas Bhumi. Suasana perjalanan dan nostalgia masa
kecil pasti bisa memberi inspirasi baru.”
Mereka pun menyusun rencana agar tetap bisa menulis
bersama. Dengan bantuan teknologi, mereka akan berkolaborasi secara daring
menggunakan Google Docs. Pak Tigi akan tetap berbagi cerita dan masukan dari
rumahnya, sementara Mas Bhumi melanjutkan penulisan dari perjalanan mudiknya.
Hari keberangkatan pun tiba. Mas Bhumi berpamitan
kepada Pak Tigi setelah memastikan semua file tersimpan dengan baik di
laptopnya. “Jangan lupa untuk tetap menulis meski sedang di perjalanan,”
pesan Pak Tigi sambil menepuk bahu Mas Bhumi.
Perjalanan mudik membawa Mas Bhumi menyusuri kenangan
masa kecilnya. Setiap halte, setiap jalan desa yang ia lalui membangkitkan
ingatan yang bisa menjadi bagian dari novel mereka. Di dalam kereta, ia membuka
Google Docs dan mulai menulis, menambahkan detail yang baru saja ia alami.
Sesampainya di rumah neneknya di Jawa Tengah, Mas
Bhumi menghabiskan waktu bersama keluarga di tengah persiapan Lebaran. Namun,
ia tetap menyempatkan diri untuk menulis, terutama saat malam menjelang dan
suasana desa mulai hening.
Pak Tigi tetap setia membaca dan mengomentari tulisan
Mas Bhumi. “Mas Bhumi, saya suka bagian tentang perjalanan batin tokoh utama
kita. Mungkin kita bisa memperdalam refleksi spiritualnya di malam-malam
terakhir Ramadhan?” sarannya melalui pesan singkat.
Inspirasi semakin mengalir. Di sela-sela kegiatan menjelang
Lebaran, Mas Bhumi menyelesaikan target 80% novel mereka. Ia merasa bahwa mudik
kali ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin, sama
seperti perjalanan tokoh dalam novel mereka.
Malam takbiran sudah semakin dekat, takbir akan berkumandang di seluruh desa dalam 2 minggu kedepan. Mas Bhumi menatap naskah di laptopnya dan tersenyum. “Pak Tigi, kita hampir sampai di akhir cerita,” tulisnya di Google Docs. Pak Tigi membalas dengan singkat, “Akhirnya bukan hanya tentang menutup cerita, tapi memastikan pesannya sampai ke hati pembaca.”


