Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pidato tegas dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 di New York, Amerika Serikat. Dalam pidatonya, Prabowo menyerukan kepada dunia untuk menolak doktrin Thucydides yang berbunyi: “The strong do what they can, the weak suffer what they must.”
Prabowo menegaskan, PBB didirikan justru untuk menolak logika kekuasaan yang menindas kaum lemah. Menurutnya, lembaga internasional itu hadir untuk memastikan terciptanya keadilan bagi semua bangsa, baik yang kuat maupun yang lemah.
“PBB bukanlah ruang untuk membenarkan dominasi kekuatan militer atau ekonomi semata. PBB adalah rumah bagi semua bangsa untuk menegakkan keadilan,” ujar Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan ke seluruh dunia.
Lebih lanjut, Presiden menekankan bahwa dunia tidak boleh tunduk pada logika bahwa kekuasaan semata dapat menjadi penentu kebenaran. “Might cannot be right, right must be right,” tegasnya. Ucapan ini menjadi penekanan utama dalam pidatonya, yang disambut dengan perhatian serius dari para delegasi negara anggota.
Prabowo juga mengingatkan bahwa sejarah dunia telah berkali-kali menunjukkan bagaimana penyalahgunaan kekuasaan berujung pada konflik, perang, dan penderitaan panjang bagi umat manusia. Menurutnya, situasi global saat ini membutuhkan solidaritas dan kepemimpinan moral, bukan sekadar adu kekuatan.
Dalam konteks itu, ia mengajak negara-negara anggota PBB untuk memperkuat kerja sama internasional yang berlandaskan keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hukum internasional. “Kita harus berdiri untuk semua bangsa. Tidak boleh ada yang dibiarkan tertindas hanya karena mereka lemah,” ujar Prabowo.
Pidato Presiden Indonesia ini menjadi sorotan karena membawa pesan moral yang kuat di tengah meningkatnya ketegangan global, baik dalam bidang geopolitik, ekonomi, maupun keamanan. Seruan menolak doktrin Thucydides dianggap relevan dengan tantangan dunia yang tengah menghadapi risiko polarisasi antar kekuatan besar.
Sejumlah pengamat menilai, pidato tersebut mencerminkan konsistensi Indonesia dalam memperjuangkan prinsip non-blok dan peran aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Indonesia, kata mereka, kembali menegaskan posisi sebagai jembatan dialog antarnegara dan pengusung keadilan global.
Selain itu, seruan ini juga memperkuat citra Indonesia sebagai salah satu kekuatan menengah yang berkomitmen pada multilateralisme. Dalam forum sebesar PBB, pernyataan Prabowo dianggap sebagai refleksi dari aspirasi negara-negara berkembang yang sering kali menjadi korban dari dominasi kekuatan global.
Dengan tegas menolak doktrin yang membenarkan penindasan, Presiden Prabowo mengakhiri pidatonya dengan ajakan untuk bersama-sama menjaga PBB tetap menjadi mercusuar perdamaian, keadilan, dan harapan bagi seluruh umat manusia.

