Iklan

Latest Post


Guru Di Negara Maju Lebih Khawatir Muridnya Tidak Bisa Mengantri Ketimbang Tidak Bisa Matematika, Kenapa?

Bhumi Literasi
Jumat, 25 Februari 2022, Februari 25, 2022 WIB Last Updated 2022-02-25T04:54:35Z

Memiliki anak yang pintar dalam segala bidang memang idaman orang tua, tapi hanya segelintir anak yang bisa mencapainya karena kemampuan masing-masing anak berbeda 

Seorang guru di Kupang, Nusa Tenggara Timur, melalui akun Facebook, Daniel Tapobali, memposting status tentang perbandingan pola pendidikan di negara maju dengan pendidikan di Indonesia yang sempat virall.

Seorang guru di Australia pernah berkata :

“Kami tidak terlalu khawatir anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika”. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

Saya tanya "kenapa begitu?”

Jawabnya :

1. Karena kita hanya perlu melatih anak 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak jadi penari, atlet, musisi, pelukis, dsb.

3. Karena semua murid sekolah pasti lebih membutuhkan pelajaran Etika Moral dan ilmu berbagi dengan orang lain saat dewasa kelak.

”Apakah pelajaran penting di balik budaya MENGANTRI?”

”Oh banyak sekali.."

1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya jika ia mendapat antrian di tengah atau di belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal.

4. Anak belajar disiplin, setara, tidak menyerobot hak orang lain.

5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)

6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan berkomunikasi dengan orang lain di antrian.

7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

9. Anak belajar disiplin, teratur, dan menghargai orang lain

10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

11. Dan masih banyak pelajaran lainnya, silakan anda temukan sendiri..

FAKTANYA di Indonesia..

Banyak orang tua justru mengajari anaknya dlm masalah mengantri dan menunggu giliran, Sebagai berikut :

1. Ada orangtua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”   

2. Ada orangtua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

3. Ada orangtua yang memakai taktik atau alasan agar dia atau anaknya diberi jatah antrian terdepan, dengan alasan anaknya masih kecil, capek, rumahnya jauh, orang tak mampu, dsb.

4. Ada orang tua yang marah-marah karena dia atau anaknya ditegur gara-gara menyerobot antrian orang lain, lalu ngajak berkelahi si penegur.

5. Dan berbagai kasus lain yang mungkin pernah anda alami.

Yuk kita ajari anak-anak kita, kerabat dan saudara untuk belajar etika sosial, khususnya ANTRI.

Menurut dia budaya SUAP dan KORUPSI juga dimulai dari tidak mau belajar mengantre

Beberapa Tanggapan Netizen

Kebanyakan netizen memberi apresiasi dan terima kasih atas status yang diposting Daniel.

Bahkan ada yang meminta supaya status ini jangan dibuang, minta diprint supaya mereka bisa mendapatkan kopiannya.

Mereka menganggap budaya antre sebagai salah satu bentuk pendidikan karakter sebagaimana sedang digencarkan pemerintah Indonesia saat ini.

Lalu siapa yang harus mengajarkannya?

Ya, tidak usah jauh-usah jauh, Anda sebagai orangtualah yang harus memberi contoh, mulai dari rumah.

Selanjutnya, para guru di sekolah juga harus mengajarkannya, pertama-tama melalui teladan hidup.

Selamat mengajar

Komentar

Tampilkan