Iklan

Latest Post


Manusia Berkarakter Implementasi Nilai-Nilai Bela Negara

Bhumi Literasi
Jumat, 17 Januari 2025, Januari 17, 2025 WIB Last Updated 2025-01-17T12:33:06Z

Abstrak

Pentingnya implementasi nilai-nilai bela negara dalam membentuk manusia berkarakter sangat relevan di tengah dinamika sosial dan perkembangan zaman. Nilai-nilai seperti cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, serta keyakinan pada Pancasila sebagai ideologi negara menjadi dasar dalam membangun integritas dan moralitas individu. Esai ini membahas bagaimana penerapan nilai bela negara dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Meskipun ada tantangan yang dihadapi, seperti pengaruh globalisasi dan kurangnya pemahaman mengenai bela negara, sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat dapat membantu mengatasi hambatan tersebut. Dengan demikian, implementasi nilai bela negara diharapkan dapat membentuk generasi yang memiliki karakter yang kuat, bertanggung jawab, dan cinta tanah air.

Kata Kunci: Bela negara, karakter, nilai kebangsaan, integritas, pendidikan karakter, Pancasila, cinta tanah air, globalisasi.

 

PENDAHULUAN

Di tengah dinamika globalisasi yang semakin kompleks, penting bagi setiap bangsa untuk memastikan bahwa nilai-nilai kebangsaan tetap menjadi landasan utama dalam kehidupan bermasyarakat. Indonesia, sebagai negara yang kaya akan keberagaman, menghadapi tantangan besar untuk menjaga persatuan dan kesatuan di tengah berbagai perbedaan. Dalam hal ini, konsep bela negara menjadi salah satu elemen penting yang tidak hanya relevan dalam pertahanan fisik, tetapi juga dalam membangun karakter manusia yang berintegritas, patriotik, dan bertanggung jawab.

Nilai-nilai bela negara, seperti cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, serta rela berkorban, sejatinya merupakan fondasi dalam membentuk manusia yang berkarakter. Nilai-nilai ini mengakar pada ideologi Pancasila yang menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia. Sayangnya, dalam realitas kehidupan sehari-hari, penerapan nilai-nilai tersebut sering kali belum maksimal. Banyak individu yang kurang menyadari bahwa implementasi nilai bela negara tidak hanya berkaitan dengan tugas militer, tetapi juga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai upaya membentuk manusia berkarakter, penerapan nilai-nilai bela negara memerlukan peran aktif dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, institusi pendidikan, hingga pemerintah. Keluarga, sebagai unit sosial terkecil, memiliki peran krusial dalam menanamkan nilai-nilai dasar bela negara kepada anak sejak usia dini. Di sisi lain, lembaga pendidikan dapat menjadi tempat untuk mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam kurikulum, sehingga generasi muda dapat memahami pentingnya bela negara di era modern.

Namun, tantangan dalam mengimplementasikan nilai-nilai bela negara tidaklah kecil. Perkembangan teknologi informasi yang pesat dan pengaruh budaya asing sering kali menggeser nilai-nilai lokal yang seharusnya dijunjung tinggi. Selain itu, individualisme yang semakin meningkat membuat banyak orang cenderung mementingkan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan bersama. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang terkoordinasi untuk menjaga agar nilai-nilai bela negara tetap relevan di tengah arus perubahan zaman.

Melalui esai ini, penulis berupaya menguraikan pentingnya implementasi nilai-nilai bela negara dalam membentuk manusia berkarakter. Dengan membahas pengertian, relevansi, dan tantangan dalam penerapannya, diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang bagaimana nilai-nilai tersebut dapat menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, sehingga mampu menciptakan masyarakat yang harmonis, berdaya saing, dan tetap setia pada nilai-nilai kebangsaan.

 

PEMBAHASAN

Pengertian dan Esensi Bela Negara

Bela negara merupakan salah satu kewajiban yang melekat pada setiap warga negara, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 27 Ayat (3) yang menyatakan bahwa “setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.” Pengertian lebih rinci mengenai bela negara diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, yang mendefinisikan bela negara sebagai sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Selain itu, dalam kebudayaan lokal, bela negara sering dimaknai sebagai kewajiban moral untuk menjaga harmoni, memperkokoh persatuan, dan melestarikan warisan budaya yang menjadi identitas bangsa.

Nilai-nilai utama bela negara merujuk pada lima prinsip mendasar yang membentuk esensi dari sikap bela negara. Pertama, cinta tanah air, yang mencerminkan penghargaan terhadap tanah air dengan menjaga sumber daya alam, melestarikan budaya lokal, dan menghormati simbol-simbol negara. Kedua, kesadaran berbangsa dan bernegara, yang menekankan pentingnya memahami identitas sebagai bagian dari NKRI. Ketiga, keyakinan pada Pancasila sebagai ideologi negara, yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan dan panduan moral dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, rela berkorban untuk bangsa dan negara, yang tidak hanya dalam bentuk pengorbanan jiwa di medan perang, tetapi juga dalam mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Kelima, kemampuan awal bela negara, yang meliputi kemampuan fisik, mental, dan intelektual untuk menghadapi tantangan yang dapat mengancam kedaulatan bangsa.

Esensi bela negara tidak hanya terbatas pada aspek pertahanan fisik dari ancaman militer, tetapi juga mencakup upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa melalui kontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, bela negara dapat diwujudkan melalui sikap disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran akan pentingnya menjaga kerukunan sosial. Bela negara juga mengajarkan pentingnya ketahanan mental dan moral dalam menghadapi tantangan zaman, seperti globalisasi, radikalisme, dan berbagai bentuk ancaman non-militer lainnya. Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai bela negara harus menjadi bagian integral dari pembentukan karakter individu, demi terciptanya masyarakat yang berdaya tahan dan berdaya saing tinggi.

 

Hubungan Nilai Bela Negara dengan Pembentukan Karakter

Nilai-nilai bela negara memainkan peran penting sebagai fondasi moralitas dan integritas individu. Bela negara tidak hanya berbicara tentang kesiapan fisik untuk mempertahankan kedaulatan negara, tetapi juga melibatkan nilai-nilai mendasar yang membentuk kepribadian seseorang. Nilai-nilai seperti cinta tanah air, kesadaran berbangsa, dan rela berkorban memberikan kerangka moral bagi individu untuk memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar. Dengan menanamkan nilai-nilai ini, seseorang dapat menjadi pribadi yang tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki komitmen untuk memberikan kontribusi positif kepada bangsa dan negara.

Keterkaitan nilai-nilai bela negara dengan pendidikan karakter terlihat jelas dalam penerapan prinsip-prinsip seperti disiplin, tanggung jawab, dan gotong royong. Disiplin yang diajarkan melalui bela negara membantu individu untuk menghargai waktu, mematuhi aturan, dan menjalankan tugas dengan penuh dedikasi. Tanggung jawab, sebagai nilai inti bela negara, mendorong individu untuk memahami dan melaksanakan perannya dalam masyarakat, baik dalam skala kecil seperti keluarga maupun dalam skala besar seperti negara. Sementara itu, gotong royong, yang mencerminkan semangat kebersamaan, menanamkan pentingnya bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama, terutama dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Penerapan nilai-nilai bela negara dalam pendidikan karakter juga memberikan dampak yang luas dalam kehidupan sehari-hari. Individu yang memiliki karakter berbasis nilai bela negara cenderung menjadi lebih adaptif terhadap tantangan zaman, seperti globalisasi dan perubahan sosial yang cepat. Mereka juga lebih mampu menjaga harmoni dalam hubungan sosial, mengutamakan dialog dalam menyelesaikan konflik, serta berperan aktif dalam memajukan masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai bela negara bukan hanya sekedar konsep abstrak, melainkan elemen kunci yang membentuk karakter individu yang tangguh, berintegritas, dan bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara.

 

Implementasi Nilai Bela Negara dalam Kehidupan Sehari-hari

Implementasi nilai bela negara dimulai dari lingkungan keluarga sebagai unit terkecil masyarakat. Keluarga memiliki peran strategis dalam menanamkan rasa cinta tanah air kepada anak-anak sejak dini. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana, seperti memperkenalkan lagu-lagu kebangsaan, mengenalkan sejarah perjuangan bangsa, serta mengajarkan penghargaan terhadap simbol-simbol negara seperti bendera dan Pancasila. Orang tua juga dapat menjadi teladan dengan menunjukkan rasa hormat kepada budaya lokal, menjaga keutuhan lingkungan, dan membangun rasa bangga terhadap identitas kebangsaan. Dengan pendekatan ini, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang mencintai tanah airnya dan memahami pentingnya menjaga persatuan bangsa.

Di lingkungan sekolah, nilai-nilai bela negara dapat diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan untuk memperkuat kesadaran kebangsaan di kalangan generasi muda. Guru sebagai pendidik memiliki peran penting dalam mengajarkan nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan gotong royong melalui pembelajaran di kelas maupun kegiatan ekstrakurikuler. Program seperti upacara bendera, peringatan hari nasional, dan pendidikan sejarah menjadi sarana efektif untuk menanamkan semangat bela negara kepada siswa. Selain itu, kegiatan kepemimpinan dan kerja sama dalam organisasi sekolah, seperti OSIS atau pramuka, juga dapat menjadi media untuk mengembangkan karakter kebangsaan dan memperkuat rasa solidaritas.

Dalam masyarakat, implementasi nilai bela negara dapat diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan budaya. Individu dapat menunjukkan rasa cinta tanah air dengan ikut serta dalam kegiatan gotong royong, pelestarian budaya lokal, serta menjaga lingkungan tempat tinggal. Keterlibatan dalam kegiatan seperti pengajian, karang taruna, atau bakti sosial juga memperkuat solidaritas sosial dan memperkokoh rasa persatuan di tengah masyarakat yang majemuk. Lebih dari itu, kontribusi kecil seperti membantu sesama, menghormati perbedaan, dan mematuhi peraturan yang berlaku menunjukkan bahwa nilai bela negara dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga harmoni dan keutuhan bangsa.

 

Tantangan dalam Mewujudkan Manusia Berkarakter

Salah satu tantangan utama dalam mewujudkan manusia berkarakter adalah pengaruh globalisasi yang semakin mendalam, yang sering kali disertai dengan meningkatnya individualisme. Globalisasi membawa arus informasi, budaya, dan gaya hidup dari berbagai penjuru dunia, yang tidak selalu selaras dengan nilai-nilai lokal dan kebangsaan. Akibatnya, banyak individu, terutama generasi muda, yang lebih terpengaruh oleh budaya asing daripada nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Individualisme yang berkembang pesat juga memicu sikap mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan bersama. Kondisi ini dapat menggerus rasa solidaritas, gotong royong, dan komitmen terhadap nilai-nilai bela negara yang seharusnya menjadi landasan moral kehidupan bermasyarakat.

Selain itu, kurangnya pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya bela negara juga menjadi kendala signifikan. Banyak masyarakat yang menganggap bela negara hanya terkait dengan aspek militer, sehingga nilai-nilai ini sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Minimnya pengetahuan tentang sejarah perjuangan bangsa dan pentingnya mempertahankan kedaulatan negara membuat generasi muda kurang menghargai nilai-nilai kebangsaan. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya sosialisasi dan pendidikan formal yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai bela negara, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Akibatnya, upaya membentuk manusia berkarakter yang memahami pentingnya bela negara menjadi kurang maksimal.

Mengatasi tantangan-tantangan ini memerlukan sinergi antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, hingga masyarakat. Pemerintah dapat mengambil peran melalui kebijakan yang mendukung penguatan nilai-nilai kebangsaan, seperti program bela negara yang inklusif dan relevan dengan perkembangan zaman. Di sisi lain, keluarga dan sekolah perlu menjadi tempat pertama untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya bela negara sejak usia dini. Melalui kerja sama yang terintegrasi, tantangan globalisasi dan individualisme dapat dihadapi, dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya bela negara dapat ditingkatkan. Dengan demikian, manusia berkarakter yang memiliki integritas dan komitmen terhadap bangsa dapat tercipta meskipun di tengah dinamika perubahan zaman.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Nilai-nilai bela negara memiliki peran penting dalam membentuk manusia berkarakter yang berintegritas, patriotik, dan bertanggung jawab. Dengan menjadikan cinta tanah air, kesadaran berbangsa, rela berkorban, dan keyakinan pada Pancasila sebagai pedoman, setiap individu dapat berkontribusi dalam menjaga keutuhan bangsa. Implementasi nilai-nilai ini dapat dimulai dari lingkungan terkecil, seperti keluarga, hingga ke sekolah dan masyarakat, dengan menanamkan disiplin, tanggung jawab, serta semangat gotong royong.

Namun, berbagai tantangan seperti pengaruh globalisasi, individualisme, dan kurangnya pemahaman tentang bela negara memerlukan perhatian serius. Sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah menjadi kunci utama dalam menghadapi hambatan ini. Dengan pendekatan yang terintegrasi, nilai-nilai bela negara dapat ditanamkan secara efektif sehingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Melalui pemahaman dan penerapan nilai-nilai bela negara, Indonesia dapat menciptakan generasi yang tidak hanya tangguh menghadapi tantangan zaman, tetapi juga memiliki komitmen kuat untuk mempertahankan persatuan, keutuhan, dan kedaulatan bangsa.

 

Saran

Untuk mengoptimalkan penerapan nilai-nilai bela negara dalam membentuk manusia berkarakter, diperlukan upaya bersama dari berbagai elemen masyarakat.
Keluarga perlu menjadi tempat pertama untuk menanamkan nilai-nilai bela negara sejak dini. Orang tua dapat mengenalkan pentingnya cinta tanah air melalui cerita sejarah, simbol-simbol kebangsaan, dan kegiatan sederhana seperti menyanyikan lagu kebangsaan atau menghormati bendera. Dengan teladan yang baik dari orang tua, anak akan lebih mudah memahami dan menghayati nilai-nilai kebangsaan.

Sekolah harus mengintegrasikan pendidikan bela negara ke dalam kurikulum, baik melalui mata pelajaran formal seperti PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) maupun melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, upacara bendera, dan peringatan hari nasional. Guru juga perlu dilatih untuk menyampaikan materi bela negara dengan cara yang menarik dan relevan dengan kehidupan siswa.

Pemerintah perlu memperluas program bela negara yang inklusif dan berkesinambungan, seperti pelatihan kebangsaan dan kampanye cinta tanah air yang melibatkan semua lapisan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat dapat berkontribusi dengan menciptakan lingkungan yang mendukung semangat kebersamaan dan gotong royong, seperti melalui kegiatan sosial dan budaya yang memperkuat solidaritas nasional. Dengan langkah-langkah tersebut, nilai-nilai bela negara tidak hanya menjadi teori, tetapi juga menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, sehingga mampu menciptakan individu yang berkarakter kuat dan masyarakat yang harmonis serta tangguh menghadapi tantangan zaman.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aryani, E. D., Fadjrin, N., Azzahro, T. A., & Fitriono, R. A. (2022). Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter. Gema Keadilan9(3), 186-198.

Damanhuri, D., Bahrudin, F. A., Legiani, W. H., & Rahman, I. N. (2016). Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa. Untirta Civic Education Journal1(2).

Hidayat, S. I. (2020). Implementasi Nilai-Nilai Pancasila di Perguruan Tinggi Melalui Pemberian Mata Kuliah Pendidikan Bela Negara. Jurnal UPN “Veteran” Jawa Timur.

Kristiani, R. N. (2022). Membangun Sikap Bela Negara dengan Nilai Pancasila dalam Ruang Lingkup Masyarakat Masa Kini. Jurnal Pancasila dan Bela Negara2(2).

Perdana, I. A. Upaya Penanaman Nilai-Nilai Bela Negara Dalam Meningkatkan Nasionalisme Generasi Muda Menghadapi Ancaman Strategis Global. Bersama Bela Negara69.

Rulyansah, A., Wardana, L. A., & Sari, I. N. (2018). Idealisasi Ideologi Pancasila untuk Pencegahan Radikalisme melalui Aktivitas Bela Negara pada PK2MABA Universitas Panca Marga (Doctoral dissertation, State University of Malang).

Sari, W. A., & Lian, B. (2017). Menjadikan Mata Kuliah Pendidikan Pancasila Sebagai Media Penanaman Nilai-Nilai Bela Negara. JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan)2(2), 303-313.

Sari, Y. P. (2019). Peranan Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka dalam Meningkatkan Nilai-Nilai Bela Negara Peserta Didik (Studi Kasus Pada Ekstrakurikuler Pramuka di SMPN 1 Tirtamulya Kab. Karawang) (Doctoral dissertation, Fkip Unpas).

Umra, S. I. (2019). Penerapan konsep bela negara, nasionalisme atau militerisasi warga negara. Lex Renaissance4(1), 164-178.

Komentar

Tampilkan