Iklan

Latest Post


Koruptor: Takut Miskin, Bukan Takut Tuhan, Penjara, atau kematian.

Bhumi Literasi
Senin, 03 Maret 2025, Maret 03, 2025 WIB Last Updated 2025-03-03T02:26:11Z


Korupsi telah menjadi penyakit kronis yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap tahun, berbagai kasus korupsi terungkap, melibatkan pejabat publik, pengusaha, hingga aparat penegak hukum. Ironisnya, meskipun banyak pelaku korupsi yang tertangkap dan dijatuhi hukuman, praktik ini tetap berlangsung. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa koruptor tetap berani melakukan tindakan tersebut meskipun mereka tahu risikonya?

Jawabannya sederhana: mereka tidak takut pada Tuhan, tidak gentar menghadapi penjara, dan bahkan tidak peduli pada kematian. Yang benar-benar mereka takuti adalah hidup dalam kemiskinan. Bagi para koruptor, kehilangan harta dan kenyamanan hidup jauh lebih mengerikan dibandingkan hukuman yang menanti mereka. Inilah alasan mengapa mereka rela mengambil risiko besar demi menumpuk kekayaan dengan cara yang tidak halal.

Banyak kasus membuktikan bahwa para koruptor tetap bisa menikmati hasil kejahatan mereka meskipun telah dipenjara. Hukuman yang ringan, fasilitas mewah di dalam lapas, serta kemungkinan mendapatkan remisi membuat mereka tidak benar-benar merasa jera. Beberapa di antaranya bahkan masih bisa mengendalikan bisnis atau kekayaannya dari balik jeruji besi. Akibatnya, penjara tidak lagi menjadi momok menakutkan bagi mereka.

Tak hanya itu, kematian pun bukan sesuatu yang membuat mereka berpikir dua kali sebelum melakukan korupsi. Uang yang mereka kumpulkan sering kali diwariskan kepada keluarga mereka, memastikan bahwa keturunan mereka tetap hidup dalam kemewahan. Bagi mereka, kematian hanyalah akhir dari kehidupan pribadi, tetapi harta yang mereka kumpulkan akan tetap memberikan kenyamanan bagi orang-orang terdekat mereka.

Keberanian para koruptor dalam melakukan kejahatan ini juga menunjukkan bahwa mereka telah kehilangan nilai-nilai moral dan keimanan. Jika mereka masih memiliki rasa takut kepada Tuhan, tentu mereka tidak akan berani mengambil hak orang lain dan merugikan negara. Namun, kerakusan akan kekayaan membuat mereka mengabaikan ajaran agama dan etika.

Di sisi lain, fenomena ini juga mencerminkan lemahnya sistem hukum dalam menindak koruptor. Jika hukuman bagi pencuri kecil bisa sangat berat, seharusnya hukuman bagi koruptor lebih tegas lagi. Sayangnya, banyak kasus menunjukkan bahwa para koruptor justru mendapatkan perlakuan istimewa, baik di dalam maupun di luar penjara. Hal ini semakin memperkuat keberanian mereka untuk terus melakukan korupsi.

Masyarakat pun memiliki peran penting dalam menekan angka korupsi. Jika budaya permisif terhadap korupsi terus dibiarkan, maka para pelaku akan semakin merasa aman. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk tidak mendukung atau membiarkan praktik korupsi berkembang. Pendidikan antikorupsi sejak dini juga harus diperkuat agar generasi mendatang memiliki integritas yang lebih baik.

Selain itu, reformasi birokrasi dan sistem pengawasan yang lebih ketat harus segera diterapkan. Transparansi dalam pengelolaan anggaran serta penegakan hukum yang tidak pandang bulu akan membuat para calon koruptor berpikir dua kali sebelum melakukan aksinya. Jika korupsi terus dibiarkan, maka negeri ini akan semakin terpuruk, dan kesejahteraan rakyat akan terus tergerus.

Koruptor tidak takut Tuhan, tidak gentar pada penjara, dan tidak peduli pada kematian. Satu-satunya yang mereka takuti adalah kemiskinan. Maka, tugas kita sebagai masyarakat adalah memastikan bahwa tidak ada ruang bagi koruptor untuk menikmati hasil kejahatannya. Hukuman yang lebih berat, pengawasan yang lebih ketat, serta budaya antikorupsi yang kuat adalah kunci untuk memberantas praktik korupsi di negeri ini.

Jika kita ingin melihat negara yang lebih baik, maka kita harus berani melawan korupsi dalam segala bentuknya. Kita harus memastikan bahwa hukum benar-benar menjadi alat keadilan, bukan sekedar formalitas yang bisa dibeli dengan uang. Sudah saatnya koruptor benar-benar takut, bukan hanya pada kemiskinan, tetapi juga pada hukum dan azab yang menanti mereka.
Komentar

Tampilkan