Iklan

Latest Post


Malam Pertama Ramadhan dan Janji Sebulan

Bhumi Literasi
Senin, 03 Maret 2025, Maret 03, 2025 WIB Last Updated 2025-03-03T02:24:59Z


EPISODE 1

Malam pertama Ramadhan 1446 H tiba dengan suasana syahdu di desa tempat Mas Bhumi tinggal. Setelah pengumuman dari Menteri Agama RI bahwa esok hari umat Islam di Indonesia akan mulai menjalankan ibadah puasa, langit desa terlihat lebih tenang, seakan ikut menyambut bulan penuh berkah ini. Mas Bhumi, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri favorit di Jogja, merasa senang karena besok hari Sabtu dan ia libur kuliah. Ia memutuskan untuk berkunjung ke rumah Pak Tigi, seorang sesepuh desa yang sangat dihormati dan sudah seperti kakeknya sendiri.

Sesampainya di rumah Pak Tigi, Mas Bhumi langsung disambut dengan senyum ramah. Di atas meja sudah tersedia cangkir-cangkir kecil berisi kopi hitam serta sepiring singkong rebus yang masih mengepul. "Mas Bhumi, akhirnya Ramadhan tiba juga, ya?" sapa Pak Tigi sambil menuangkan kopi ke cangkir Mas Bhumi.

"Iya, Pak Tigi. Rasanya baru kemarin kita ngobrol soal Ramadhan tahun lalu, sekarang sudah datang lagi. Mas Bhumi ingin Ramadhan kali ini lebih bermakna," ujar Mas Bhumi sambil menyeruput kopinya pelan.

Pak Tigi mengangguk pelan. "Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk merenung dan memperbaiki diri. Apa rencana Mas Bhumi tahun ini?"

"Selain berusaha khatam Qur’an, Mas Bhumi ingin melakukan sesuatu yang lebih produktif, Pak Tigi. Mas Bhumi berpikir untuk menulis sebuah novel selama Ramadhan ini," jawab Mas Bhumi dengan semangat.

Mata Pak Tigi berbinar. "Itu ide bagus! Tulisan bisa menjadi warisan ilmu dan inspirasi bagi banyak orang. Kalau begitu, bagaimana kalau kita menulisnya bersama? Pak Tigi bisa berbagi cerita dan pengalaman, sementara Mas Bhumi yang menuliskannya."

Mas Bhumi terkejut sekaligus senang mendengar tawaran itu. Ia tahu bahwa Pak Tigi memiliki banyak kisah berharga yang layak untuk dibukukan. "Wah, itu akan sangat luar biasa, Pak Tigi! Mas Bhumi yakin, novel ini akan menjadi sesuatu yang istimewa."

"Kita bisa menjadikannya proyek ngabuburit. Setiap sore sebelum berbuka, kita duduk di sini, berdiskusi, dan menulis. Bagaimana?" tanya Pak Tigi.

Mas Bhumi langsung mengangguk mantap. "Setuju, Pak Tigi! Ini akan menjadi Ramadhan yang paling berkesan buat Mas Bhumi."

Malam itu, di bawah langit Ramadhan yang pertama, dua generasi yang berbeda membuat sebuah janji: menulis sebuah novel dalam sebulan penuh. Bagi mereka, ini bukan sekedar tulisan, melainkan warisan cerita yang akan hidup lebih lama dari usia mereka sendiri.
Komentar

Tampilkan