Bulan Ramadan sering kali dianggap sebagai momen untuk memperlambat aktivitas dan lebih banyak beristirahat. Namun, bagi kami sekeluarga, Ramadan justru menjadi waktu untuk tetap produktif, bahkan semakin bersemangat dalam berkarya. Aku dan istriku tetap aktif menulis, sementara anakku yang masih balita pun tak mau ketinggalan dalam kegiatan kreatif kami.
Menjalankan puasa bukanlah alasan untuk menurunkan produktivitas. Justru, momen ini menjadi ajang latihan mengendalikan diri, meningkatkan fokus, serta mengatur waktu dengan lebih bijak. Kami mengatur ritme kerja agar tetap optimal, tanpa mengganggu ibadah dan istirahat yang cukup. Dengan cara ini, tubuh tetap bugar dan pikiran tetap tajam untuk berkarya.
Setiap pagi setelah sahur dan salat Subuh, kami memanfaatkan waktu untuk brainstorming ide-ide baru. Waktu pagi terasa lebih segar dan tenang, sehingga kreativitas mengalir lebih lancar. Kami menyusun konsep tulisan, berdiskusi tentang buku yang sedang dikerjakan, dan merancang target harian yang realistis.
Menulis di bulan Ramadan juga menghadirkan nuansa yang berbeda. Ada ketenangan spiritual yang terasa lebih mendalam, seolah inspirasi datang dengan lebih mudah. Tulisan-tulisan yang dihasilkan pun lebih reflektif, menyentuh aspek spiritual dan kemanusiaan dengan lebih kuat. Ramadan memberikan perspektif baru dalam berkarya, membuat setiap kata memiliki makna yang lebih dalam.
Menariknya, anak kami yang masih balita juga turut terlibat dalam aktivitas ini. Ia sering duduk bersama kami, mencoret-coret kertas dengan pensil warna, seakan ikut menulis cerita versinya sendiri. Melihatnya berpartisipasi dengan antusias membuat kami semakin bersemangat. Ini menjadi bukti bahwa produktivitas tidak selalu harus serius, tetapi bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan dan melibatkan seluruh keluarga.
Selain menulis, kami juga tetap aktif melakukan kegiatan lain yang mendukung produktivitas, seperti membaca buku, mengikuti diskusi daring, dan menyusun rencana untuk proyek-proyek ke depan. Dengan tetap menjaga pola hidup sehat, cukup tidur, dan menghindari aktivitas yang terlalu menguras energi, kami bisa menjaga stamina sepanjang hari.
Tentu saja, ada tantangan tersendiri dalam menjalankan produktivitas saat berpuasa. Rasa lelah dan kantuk kadang datang di siang hari, tetapi kami menyiasatinya dengan beristirahat sejenak atau mengganti aktivitas dengan yang lebih ringan, seperti membaca atau mendengarkan musik. Yang penting adalah tetap konsisten dan tidak menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
Ramadan juga mengajarkan pentingnya manajemen waktu. Kami belajar untuk membagi waktu antara ibadah, pekerjaan, dan keluarga dengan lebih seimbang. Setiap detik di bulan yang penuh berkah ini terasa begitu berharga, sehingga kami berusaha untuk tidak menyia-nyiakannya.
Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang bagaimana kita tetap bisa berkarya dan memberikan manfaat bagi orang lain. Dengan niat yang kuat dan strategi yang tepat, produktivitas tetap bisa berjalan tanpa harus mengorbankan kualitas ibadah.
Puasa jalan terus, produktivitas jangan tergerus. Ramadan seharusnya menjadi momen yang menginspirasi dan memotivasi kita untuk terus maju. Dengan semangat yang tak padam, kami sekeluarga terus berkarya, menulis, dan berbagi, menjadikan Ramadan sebagai waktu yang penuh makna dan keberkahan.

.png)
