Sahur hari kedua Ramadan tahun ini benar-benar penuh kejutan. Biasanya, saya dan istri harus berjuang keras melawan rasa kantuk untuk bangun sahur. Namun, kali ini berbeda. Kami justru dibangunkan oleh anak kami yang baru berusia 2,5 tahun. Bukan dengan cara biasa seperti menggoyang-goyang tubuh atau memanggil nama kami, melainkan dengan teriakan penuh drama: "Tolong! Tolong!"
Bayangkan betapa paniknya kami! Dalam keadaan masih setengah sadar, saya langsung melompat dari tempat tidur. Pikiran saya langsung kacau—apakah ada pencuri? Apakah ada bahaya? Atau mungkin anak kami sedang kesakitan? Tapi begitu menoleh ke arah sumber suara, saya malah menemukan si kecil berdiri di depan tempat tidur dengan wajah polosnya, seperti tidak terjadi apa-apa.
Setelah menyadari situasinya, saya pun bertanya, "Kenapa, Nak?" dengan nada masih penuh waspada. Dengan santai, dia menjawab, "Sahur, Ayah! Bangun!". Seketika saya dan istri hanya bisa melongo, lalu tertawa terpingkal-pingkal. Ternyata, dia hanya ingin memastikan kami tidak ketinggalan sahur!
Yang lebih lucu lagi, setelah berhasil membangunkan kami dengan teknik ‘darurat’, anak kami malah kembali ke kasur dan tertidur pulas. Jadi, yang berjuang melawan kantuk untuk makan sahur justru kami berdua, sementara dia tidur nyenyak seolah tugasnya sudah selesai. Seperti alarm yang bekerja sekali, lalu mati sendiri.
Kejadian ini membuat saya berpikir, betapa polos dan uniknya cara berpikir anak-anak. Mungkin dia merasa bahwa untuk membangunkan orang tuanya yang susah bangun, cara paling efektif adalah membuat mereka panik. Dan memang berhasil! Bahkan lebih efektif daripada alarm apa pun yang pernah saya pakai.
Sahur malam itu benar-benar berkesan bagi kami. Biasanya, orang tua yang berusaha membangunkan anak untuk makan sahur, tapi di rumah kami, justru sebaliknya. Bahkan dengan cara yang sangat tidak terduga. Saya jadi membayangkan bagaimana jadinya kalau dia lebih besar nanti. Apakah metode membangunkannya akan semakin dramatis?
Tak hanya menjadi bahan tertawaan di rumah, cerita ini juga saya bagikan ke teman-teman. Mereka pun ikut tertawa dan mengatakan bahwa anak saya punya bakat menjadi aktor drama sejak kecil. Mungkin suatu hari dia bisa jadi bintang film dengan spesialisasi adegan darurat!
Sejak kejadian itu, saya dan istri jadi waspada setiap sahur. Siapa tahu anak kami punya cara baru yang lebih ekstrem untuk membangunkan kami. Mungkin nanti dia akan pakai sirene mainan atau bahkan mengguyur kami dengan air. Yang jelas, sahur kali ini tidak akan pernah membosankan.
Ramadan memang selalu penuh cerita unik. Dari kejadian ini, saya belajar bahwa sahur tidak hanya soal makan sebelum puasa, tapi juga momen kebersamaan yang penuh kejutan dan tawa. Terima kasih, Nak, sudah membuat sahur kami lebih seru dari tahun-tahun sebelumnya!


