Iklan

Latest Post


Cak Nun: Korupsi Merusak Masa Depan

Bhumi Literasi
Sabtu, 27 September 2025, September 27, 2025 WIB Last Updated 2025-09-27T14:53:23Z


Korupsi selalu menjadi isu besar yang menghantui kehidupan bangsa. Banyak tokoh telah menyampaikan pandangannya, namun ungkapan Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib kali ini memberikan sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, korupsi bukan semata soal hilangnya uang atau emas, melainkan kerugian besar yang menimpa diri pelaku beserta keluarga dan generasinya.

Dalam sebuah kesempatan, Cak Nun menegaskan bahwa alasan beliau anti-korupsi bukanlah sekadar karena harta negara yang hilang. Ia justru lebih menyoroti bagaimana perbuatan korupsi akan merusak jiwa pelakunya sendiri. “Kalau aku anti korupsi bukan eman duit atau emasnya. Yang aku eman kenapa kamu berbuat jahat yang akan merugikan dirimu sendiri,” ujar Cak Nun.

Pernyataan ini menegaskan bahwa korupsi bukan hanya tindak pidana, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap diri sendiri. Koruptor sesungguhnya sedang menjerumuskan dirinya ke dalam jurang kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat.

Cak Nun juga menyinggung dampak sosial dari perbuatan korupsi. Ia mengingatkan bahwa perbuatan ini tidak hanya berdampak pada pelaku, tetapi juga pada anak-anak dan keluarga mereka. Anak-anak yang tumbuh dengan bayangan aib orang tuanya akan menghadapi stigma sosial yang berat.

Selain itu, masa depan keluarga juga bisa runtuh akibat ulah korupsi. Harta yang dikumpulkan dari jalan haram tidak akan membawa keberkahan. Bahkan, dalam perspektif Islam, harta hasil korupsi justru menjadi sumber malapetaka.

Lebih jauh lagi, Cak Nun menekankan bahwa korupsi merupakan perbuatan yang menodai hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Setiap tindak kecurangan, sekecil apa pun, akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Inilah yang menurut beliau jauh lebih berat dibanding sekadar kerugian material.

Pesan ini menjadi pengingat keras bagi siapa saja yang tergoda untuk melakukan korupsi. Ketika seseorang mengambil hak yang bukan miliknya, maka sesungguhnya ia sedang menghancurkan martabat dirinya sendiri. Tidak ada kebahagiaan yang lahir dari perbuatan zalim.

Bagi masyarakat luas, pernyataan Cak Nun juga dapat menjadi refleksi. Korupsi bukan hanya soal pejabat atau pengusaha, tetapi bisa menjangkiti siapa saja dalam berbagai bentuk, mulai dari kecurangan kecil hingga kejahatan besar. Oleh karena itu, membangun kesadaran moral menjadi langkah penting untuk mencegahnya.

Jika bangsa ini ingin benar-benar terbebas dari belenggu korupsi, maka perlawanan tidak cukup hanya dengan hukum dan regulasi. Perlu ada pendekatan spiritual, kesadaran batin, serta kepedulian terhadap masa depan generasi. Pesan Cak Nun menjadi salah satu pijakan moral yang kuat dalam upaya ini.

Pada akhirnya, korupsi adalah pengkhianatan terhadap bangsa, keluarga, bahkan diri sendiri. Mengutip pesan Cak Nun, yang paling harus “dieman” bukanlah uang atau emas, melainkan kehidupan, martabat, dan masa depan kita semua.

Komentar

Tampilkan