Alkisah ada pemuda Madura
bernama Tolak mengikuti rapat di Partai Demokrasi. Tolak merupakan seorang
aktivis yang sudah malang-melintang di dunia organisasi, termasuk di partai.
Ceritanya, semua tokoh di partai tersebut membicarakan cara paling ampuh dan
siapa yang akan sanggup menasihati Presiden Gus Dur. Dalam perbicangan itu,
semua putus asa karena Presiden RI keempat ini dikenal keras kepala, terutama
kalau sudah menyangkut prinsip yang ia yakini. Ya, semua pusing. Menjadi Ketua
MPR belum tentu didengar presiden. Menjadi Ketua DPA (kini Wantimpres) apalagi.
Tetiba dalam rapat tersebut yang baru selesai larut malam, semua kaget. Pak
Tolak angkat tangan. Aktivis yang juga berambisi menjadi presiden itu
menyatakan sanggup menasihati presiden. “Caranya bagaimana Pak Tolak?” tanya
pimpinan rapat. “Gampang, kasih saya waktu 3 bulan,” jawab Pak Tolak dengan
logat khas Maduranya. “Caranya?” “Gampang, sor mejo keh ulane jo gelo wis
carane, yaitu lain lubuk lain ikannya, biarkan setiap orang punya ciri khas
sendiri-sendiri,” ujar Pak Tolak diplomatis. “Maksude opo (maksudnya apa)?”
pimpinan rapat tanya lagi. “Lah iya, masa sih Gus Dur nanti nggak mau mendengar
nasihat seorang presiden,” kata Pak Tolak.
Sumber: buku “Kelakar
Madura Buat Gus Dur” (Sujiwo Tejo, 2018)


