Pada suatu ketika, ada
beberapa tokoh agama yang sedang berkumpul sembari berdebat, yakni
tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha.
Kala itu, yang diperdebatkan adalah mengenai
agama mana yang paling dekat dengan Tuhan.
Seorang
Biksu Buddha berkata duluan: “Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan.
Karena setiap dari kita ketika beribadah memanggil Tuhan dengan ucapan “Om”.
Nah, kalian tahu sendiri, kan, seberapa dekat antara paman dengan
keponakannya?”.
Sementara
seorang Pendeta tidak mau kalah, bergegaslah ia menyangkal: “Ya tidak bisa,
sudah jelas agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan”, ungkap pendeta
tersebut. “Lah kok bisa?”, sontak kaget Biksu sambil menahan penasaran yang
mendalam.
“Kenapa
tidak, agama anda kalau memanggil Tuhan hanya mengucapkan “Om”, kalau di agama
saya memanggil Tuhan itu “bapak”. Nah, kalian tahu sendiri, kan, bagaimana
kedekatan seorang bapak kepada anaknya, daripada kedekatan paman kepada
keponakannya. Sudah pasti agama kamilah yang paling dekat”, jawab pendeta itu
dengan semangat.
Sementara
Gus Dur sama sekali belum mengeluarkan argument untuk perdebatan itu dan
dirinya masih tetap tertawa bahkan terbahak-bahak setelah mendengar
argumen-argumen yang disampaikan oleh para tokoh tadi itu.
“Lah
sampean kok malah tertawa terus?”, tanya penasaran dari pendeta. Kemudian Biksu
Buddha pun melontarkan sebuah pertanyaan: “Apakah anda merasa bahwa agama anda
lebih dekat dengan Tuhan?”, sahut biksu tersebut kepada Gus Dur.
Sementara
Gus Dur masih saja tertawa, kali ini sambil berkata: “Ndak kok, saya tidak
bilang begitu, boro-boro dekat, justru agama saya malah yang paling jauh
sendirian dari Tuhan?”, jawab Gus Dur kepada Biksu itu sambil terkekeh-kekeh
ketawa.
“Lah kok bisa?” Tanya Pendeta dan Biksu yang semakin penasaran menunggu jawaban Gus Dur. “Lah gimana tidak, wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai toa (pengeras suara)”, jawab Gus Dur sambil tertawa.


